Exit Jangan Lupa Klik Like Ya

Cerita Tante - Diperkosa Lima Orang




Cerita ngentot ini untuk lu yang suka kekerasan . cerita ini berawal dari seorang perempuan yang seksi lalu diperkosa oleh lima orang mahasiswa . Meskipun usia pernikahanku dengan Mas Eka telah menginjak enam tahun, kite-kite belum juga dikaruniai anak. Padahal hubungan seksku dengan suamiku berjalan seakan-akan yang dilakukan banyak orang. jangan lewatkan cerita dewasa awalnya Cerita sexdiperkosa teman sekelas

Sebut saja namaku Agnes (29 tahun). Aku selisih lima tahun dengan Mas Eka. Jujur kuakui, suamiku itu memang orangnya cakap dengan badan yang atletis. Dalam bentuk barang pun, dia mencukupiku bahkan berlebih-lebihan.

Mobil Jaguar saja ia belikan untukku. Setiap hari aku selalu disibukkan oleh acara-acara yang kubuat sendiri. Mulai creambath di salon, spa, maupun mandi sauna. Di hampir semua restoran mewah, awak selalu disambut dengan hangat karena aku memang sering makan di sana serta biasa memberikan tips berlebih.

Di usia pernikahanku ini yang sekarang ini, suamiku masih abadi menyayangi dan terus memanjakanku. Demikian juga denganku. Apapun yang dia minta selalu kuberikan, meskipun pernah suatu saat aku sudah tertidur kecapekan, kanda esa dengan manja memintaku untuk bercinta. awak tak segan-segan bagi melayaninya.

Seperti biasa, saat ego melayani kebutuhan biologis suamiku, dia selalu mencumbuiku dengan penuh nafsu serta digoyangnya tubuhku dengan penuh gairah hingga tersentak-sentak. Satu saja kelemahannya, seperti biasa abang Eka hanya bisa menggoyangku tak sampai sepuluh menit. Dalam diwaktu selama itu, aku bahkan seringkali masih belum orgasme.
cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, berita bokep
Karena rasa sayangku padanya, aku pun hampir selalu berpura-pura sampai kedalam puncak bersamanya. Sayang, sebagai perempuan alami lama-kelamaan ego juga menginginkan cocok dan klimaks pada permainan cinta yang intim.

Bahkan kurasakan gairah seksku kian tradisional bergejolak tak terbendung. Sebagai pelampiasan, aku menguji memuaskan gairah seksku degan berbagai vibrator yang kubeli di sex shop. Dengan vibrator dan ditemani keping-keping VCD porno, aku berusaha memuaskan nafsu seksku.

Hanya saja, itu semua kulakukan tanpa sepengetahuan suamiku. hamba khawatir bila ia amati. Tentunya beliau bakal sangat terpukul bahkan mungkin akan jadi minder.

Namun, di lainnya pihak, semua upaya yang kulakukan bagi memuaskan sendiri nafsu seksku ternyata membuatku merasa semakin gemblung. Gairah seksku yang menggebu-gebu justru semakin tidak terpuaskan. Bahkan ketika aku sudah menambah kesibukanku, tetap saja gairah-gairah ini ada mengganggu.

Di antar kegundahanku itu muncul seorang teman lamaku yang menawarkan usaha membangun rumah di daerah sekitar kampus di Cawang untuk dijadikan tempat kost mahasiswa. sebab kupikir aku mempunyai deposito cukup banyak, maka kuputuskan mengkonsultasikan hal itu bagi raka Eka.

Karena cintanya padaku, Mas Eka pun mendukung rencanaku itu. Sebenarnya dulu aku pernah kuliah arsitektur meskipun tidak lulus karena keburu menikah dengan Mas satu. Karena itu, aku beranikan diri memimpin sendiri projek pembangunan rumah asrama itu walaupun sungguh-sungguh lestari dibantu oleh lembaga kontraktor rekan kakang Eka. Yang jelas, keseluruhan desain rumah itu, aku sendiri yang buat sesuai dengan seleraku.

Setelah rumah ini berdiri, beberapa mahasiswa mulai ngekost di tempat itu. Di pada rumah itu aku sengaja membuat satu-satunya lobi kamar yang cukup besar ataupun tidak disewakan. Pikirku, mungkin satu-satunya saat bisa kugunakan sebagai tempat bersantai bersama-sama suamiku.

Ruangan itu kulengkapi dengan berbagai peralatan rumah tangga seperti furniture, televisi, lemari es, dan AC. Selain itu, di dalamnya juga tersedia kamar mandi sendiri beserta dapur. Ruangan itu juga kadang kugunakan pada awal bulan untuk istirahat sekaligus menarik uang wisma. Ruangan ini sendiri letaknya dikelilingi oleh kamar-kamar kost yang jumlah seluruhnya 20 kamar. Ini pasti baru tahap asal mula. Nanti aku berencana untuk meledakkan lagi jumlahnya.

Di rumah kostku yang besar itu, sekarang gres dihuni oleh tiga belas orang mahasiswa berusia 19-22 tahun yang kebanyakan berasal dari seberang. Kebanyakan dari manusia-manusia itu sesungguhnya masih saling mengenal ataupun saudara renggang. Biasalah, setelah satu manusia merasa cocok, dia lalu mempromosikannya bagi yang lain-lain. Merekalah penduduk awal rumah kostku yang baru kubuka. Sebagian dari oknum-oknum ini membawa komputer, bahkan televisi dan VCD player.

Saat itu sebenarnya bukan awal bulan. enggak biasanya memang aku datang ke rumah kost di disaat seolah-olah itu. Hal itu kusengaja. Aku hanya ingin mencoba keadaan. Sekalian melepas kepenatan sehabis beli di mal.

Tanpa sengaja, aku melihat dua, tiga, .... lima orang mahasiswa penghuni kostku sedang asyik menonton VCD porno di salah satu kamar yang terbuka pintunya. Aku mengenali mereka semua dengan baik: Edo, Parlin, Franki, Jo, dan Ben. Karena pesawat televisinya menuju ke pintu, ane juga bisa melihat jenis VCD yang sedangkan orang-orang ini tonton. Gangbang... enggak main... anak-anak muda jaman kali ini memang sudah lebih maju.... Dengan geli, kulihat sebagian dari mereka sambil menonton televisi, juga menggosok-gosok bagian selangkangannya yang menyembul.

Aku tertawa kecil melihat tingkah mereka dan ada keisenganku untuk mengganggu mereka. Saat itu mereka belum sadar dengan kedatanganku, maka kutimbulkan kecil kegaduhan dengan menutup keranjang sampah yang terbuat dari seng dengan cukup keras. Ya, sekarang mereka tahu kalau aku datang....

Lalu aku membuka blazerku sehingga sekarang aku mengenakan tank-top bentuk pink yang melekat ketat di tubuhku serta tertarik sebagian ke atas sehingga memamerkan pusat dan perutku yang rata. Aku yakin, dari jarak sekitar lima meter, mereka pun bisa melihat kedua putingku yang menonjol dari balik tank-top ketatku akibat beta pastinya tidak mengenakan bra. Kebetulan, saat itu aku pun mengenakan rok super mini tanpa stocking, yang dipadu dengan sepatu berhak tinggi merk Gucci. Aku merasa horny sekali... apalagi waktu tahu mereka terganggu keasyikannya menonton dan mencuri-curi pandang kepadaku...

Kugembok pintu gerbang besar untuk masuk ke rumah kostku. Sengaja juga kulakukan itu dengan nada yang cukup keras... bagi menandaskan bahwa kelima penghuni kostku mendengarnya. Lalu sambil melenggang seksi, aku berjalan menuju ruangan pribadiku. Kebetulan areal itu letak pintunya berhadapan terang-terangan dengan pintu kamar tempat kelima mahasiswa itu sedang nonton vcd bokep.

Aku membuka kunci pintu kamarku. Dalam hati aku merasa geli bercampur dengan horny. Dari pantulan lubang angin kamarku, guwe bisa melihat kalau kelima anak muda ini sekarang tidak sedangkan menonton VCD lagi, melainkan sedang memperhatikan diriku. Senang sekali rasanya bisa menggairahkan anak-anak muda itu..... hamba pun masuk, dan sengaja pintu tidak kututup dengan sidang. Masih ada sedikit celah yang terbuka....

Di dalam, aku mengungkap gorden jendela kamarku yang lebar. Ketika terbuka, aku bisa melihat kelima mahasiswa itu jadi buru-buru berpura-pura tak mengamatiku. Aku jadi semakin geli sendiri.... Dengan santai, kunyalakan AC dan kurebahkan tubuhku sejenak di sofa depan jendela sambil menyalakan televisi.

Sesaat kemudian, sambil menyiapkan minuman dingin, aku beranjak ke kamar mandi maupun merancang bathtub dengan air hangat.

Nah, sekarang tibalah saatnya.... aku merasa deg-degan juga. awak bangkit, dan sambil pura-pura berjalan kedalam sana kemari membereskan barang-barang, aku yakinkan kalau kelima mahasiswa itu masih mencuri-curi pandang mengintipku... Setelah yakin, aku pelan-pelan diawali mencopoti pakaianku... Tank-topku... Rok miniku... dan juga terakhir, CD-ku yang berenda merk Victoria's Secret...

Dalam hati guwe tertawa sekaligus horny, karena tahu sekarang kelima anak muda itu pasti sedang melotot dan menahan air liurnya.... Aku sendiri mengalami selangkanganku melembab.... Lalu aku melenggang kedalam didalam kamar mandi. Pintu kamar mandi tetap kubiarkan terbuka lebar....

Kuceburkan tubuhku ke dalam bathtub. adakalanya kubasuh tubuh mulai dari wajah, leher, sampai ke kaki. Kunikmati sesaat kehangatan cairan sambil kutenangkan pikiranku... Beberapa diwaktu pikiranku melambung... bagaimana seandainya saat ini aku bisa menyalurkan gairahku... dan mencapai puncak kenikmatan....

Setelah selesai, aku kemudian menggunakan shower untuk membersihkan tubuhku... Posisiku saat itu menghadap ke arah pancuran dan membelakangi pintu...

Secara tak sengaja, aku dikejutkan oleh berbentuk tangan yang memelukku dari belakang. manusia ini berusaha menciumiku sambil tangannya menggerayangi maupun meremasi kedua payudaraku.

Dengan tafsir terkejut, kurasakan remasan-remasan tangan itu amatlah penuh nafsu. Orang itu terus mencumbuiku dengan ganas. Dengan sekuat tenaga, aku membalikkan tubuhku...

"Ya ampun, Edo....!!" jeritku. "Bagaimana dikau bisa masuk ke sini?!"

Edo tak menjawabku. Sebaliknya ia kini berusaha mendekap tubuhku dari depan. Ternyata ia pun pernah dalam keadaan bugil. Senjatanya yang gigih kurasakan menggesek-gesek bagian-bagian tubuhku...

"Edo, jangan....!!" ego berusaha melepaskan diri dari dekapan ataupun cumbuannya. Apa daya, tenagaku kalah jauh dengannya. Tubuh kekarnya dengan keras dan mantap mencengkeramku sampai aku ngos-ngosan... Sementara itu mulutnya selalu bekerja mencumbui segala babak tubuhku yang terjangkaunya....

Meskipun aku sudah berteriak namun Edo tetap saja melakukan aksinya. Aku pun tahu kurang ada orang luar yang akan bisa mendengarku... risiko pintu gerbang depan yang kokoh pernah kugembok sendiri.... Akhirnya hamba gagal mengukuhkan kehormatanku... Sambil berdiri, mahluk itu melakukan penetrasi ke dalam tubuhku dan menggoyangku habis-habisan.... gue sempat terhenyak karena tak siap saat menerima penetrasinya. Penisnya ternyata begitu keras dan tubuhku dihunjaminya tanpa ampun.....

Bahkan setelah itu Edo membalikkan tubuhku dan terus menggoyangku selama beberapa saat hingga alhasil mahluk itu runtuh setelah mencapai klimaksnya.

Lalu Edo pun ngeloyor pergi. Dengan bodi selalu basah oleh air sabun maupun keringat serta air mani Edo, segera kuraih handuk untuk mengeringkan tubuhku. Dengan pikiran yang masih kalut, kukenakan kimono dan keluar dari kamar mandi...

Namun, begitu keluar kamar mandi, aku betul-betul terkejut ketika Franki tiba-tiba muncul dan menubrukku. Aku pertama sadar kalau teman-teman Edo pernah menunggu di luar.... Didorongnya tubuhku dan disandarkannya ke dinding.

"Franki.... jangan...." hamba hanya sempat mengeluh pendek sebab Franki tak peduli maupun tak mau pula menyia-nyiakan kesempatan...

Dalam keadaan berdiri, kimonoku disingkapnya lalu kembali ane disetubuhi dalam keadaan berdiri oleh Franki dengan ganas dan penuh nafsu.... Aku yang sudah kecapekan tak bisa berbuat banyak....

Tubuhku sampai terangkat-angkat dan salah satu kakiku diangkat Franki ke atas. selama disetubuhi Franki, sekilas awak melihat sekeliling. Parlin, Jo maupun Ben tampak sedang menonton invasi kita-kita dengan pandangan nanar.... sedang Edo entah ke mana... Gorden dan pintu kamarku pernah tertutup rapat.

Akhirnya, Franki sampai pada puncaknya. Sementara air maninya masih meleleh keluar dari penisnya yang memenuhi vaginaku... kedua tangannya mencengkeram kedua pergelangan tanganku kedalam tembok... Sementara itu mulutnya dengan ganas menciumi bibirku sampai aku kehabisan napas....

Ketika mahluk itu melepasku, aku pun ambruk ke lantai imbas kecapekan.... Jo lalu menghampiriku maupun memberiku segelas minuman teduh... Aku tidak tahu apakah yang dimasukkan Jo ke dalam minuman itu. Yang jelas rasanya agak aneh... ataupun tak konvensional kemudian menimbulkan imbas yang aneh juga pada tubuhku....

Jo menolongku berdiri lalu melepaskan kimonoku yang acak-acakan. Kemudian ia membopong tubuhku ke tempat tidur. Di sana kembali gue menjadi bulan-bulanan mereka. Jo menciumi ataupun mencumbuku penuh nafsu. Tanpa kusadari, tubuhku mulai merespon permainan mereka... Ketika Jo mulai tidak sabar menggoyangku, aku pun mulai menggeliat mengimbangi getaran Jo yang ajaib itu. Aku juga diawali merintih-rintih nikmat.

"Jooo.... aaah.... oooohhh.... Jooo..."

Melihat reaksiku yang berbeda kepada rekan-rekannya yang terdahulu, tentu saja membuat Jo semakin semangat. kelihatan sekali ia ingin memberikan yang terbaik untukku... Aku pun sama sekali tak memberikan perlawanan terhadap Jo. Aku bahkan memperlakukan Jo sama seperti ketika aku sedang bercinta dengan suamiku...

Melihat itu, Ben jadi tak tahan dan mulai menyerbu juga... dia memaksaku untuk mengulum penisnya... Mulanya ego ragu-ragu... Aku belum pernah melakukan hal seperti itu.... Tapi sepertinya aku mulai mendapatkan daya entah dari mana... Tanpa pikir panjang, kukulum penis Ben yang sudah betul-betul mengeras....

Lama-lama aku merasakan kenikmatan. Gairah-gairahku yang selama ini terpendam, akhirnya seperti lunas terbayar. Bahkan ketika Jo pernah mencapai klimaks dan gantian Ben yang menggoyangku, beta pernah enggak menolak lagi....

Sekarang Ben yang menindih dan berpacu denganku seperti sepasang tali hati sehingga kami berdua mencapai puncak bersama....

Terakhir, masih ada Parlin yang harus kulayani.... Ia pun rupanya pernah tak sabar menunggu gilirannya yang terakhir.... Bagaikan banteng ketaton, ia menindih dan menggoyangku... Kali ini aku mencapai orgasme beberapa kali.... Rupanya Parlin yang paling berpengalaman di antara keempat rekannya... ia cepat mengatur tempo... dan ia pun tampak senang melihatku beberapa bengawan mencapai orgasme lebih mulanya.... Setelah lima belas menit lebih, ia pun menyiramkan spermanya ke tubuhku... Pada saat yang bersamaan, aku pun mencapai orgasme untuk yang ketiga kalinya bersamanya...

Sambil penisnya tetap tertanam di tubuhku, kita-kita berpelukan erat seolah tak mau saling melepas. Bibir kami pun saling memagut dan berciuman seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak saling berjumpa....

Akhirnya.... kami berenam pun saling bergeletakan di berbagai tempat di kamarku selama beberapa saat. Ada perasaan takut dan dosa yang kami rasakan... bercampur dengan rasakan nikmat yang tiada tara....

Setelah pengumuman itu, jika beta datang ke sana, mereka seringkali berusaha secara tiba-tiba mengeroyokku maupun menyetubuhiku bersama-sama. Kadang aku bisa menghindar, kadang aku pun melengahkan mereka melakukannya, terutama apabila suasana di tempat kost sedang sepi....

Aku tidak tahu apa aku harus menyesal atau bahkan merasa bahagia karena kini aku bisa merasakan kepuasan seks yang luar biasa.... walaupun itu dengan cara dikeroyok oleh lima pemuda di tempat kostku.




DISINI

Cerita Tante: Tante Seksi Sekali


"Kriing.." jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata.

"Wah gawat, telat nih" dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi.

Tante Seksi Sekali - Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ria. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Bandung, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau. Oh ya, tante Ria mempunyai dua anak perempuan Latifaah dan Tya. Latifaah sudah kuliah di semester 4 dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Tya mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Setiap aku berada di rumah tante Latifaah aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Tapi kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Ria di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk seminggu.

Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ria. Setelah perjalanan 30 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah.

"Met pagi semua" aku ucapkan sapaan seperti biasanya.
"Pagi, Mas Ricky. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?" Tya membalas sapaanku.
"Iya nih kesiangan" aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.

Tante Ria masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ria tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Ria sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan.

Terdengar suara desahan lirih, "Hmm, ohh, arhh".

Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vag|na. Rupanya tante Ria ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Ria, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ria berhubungan badan denganku.

"Lho Ric, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho." Tiba-tiba suara tante Ria mengagetkan aku.
"Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya." Celetuk tante Ria sambil masuk kamar.

Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ria berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.

"Hmm.. geli ah" Aku terbangun dan terkejut, karena tante Ria sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang jalantol ku dari luar sarung.
"Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun." Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat kontolku menegang 90%.
"Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang." Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.
"Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya jalantol mu" Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.
"Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Ricky tahu kok kalau tante yang seksi ini tadi pagi masturbasi di kamar mandi" celetukku sekenanya.
"Lho, jadi kamu.." Tante kaget dengan mimik setengah marah.
"Iya, tadi Ricky ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?" agak takut juga aku kalau dia marah.

Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan kontolku di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.

"Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini.." dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.
"Iya sayang, Ricky sudah lama inginkan itu." celetukku sekenanya.
"Ya sudah peganglah sayang?" kata tanteku yang seksi itu.
Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku.

Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.

"Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir." tante Ria merengek perlahan.
"Hmm..shh" tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.

Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ria. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.

"Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh." tante mengagumi kontolku yang belum pernah dilihatnya.
"Ya sudah dibuka saja tanteku sayang." pintaku.

Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.

"Wah, rupanya tante punya jalantol lain yang lebih gedhe." Gila tante Ria ini, padahal kontolku belum besar maksimal karena terhalang CD.

Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat kontolku yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.

"Sayang.. ngapain berhenti?" aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini mengagetkannya.
"Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?" agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku.
"Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding" sambil tersenyum dia ngoceh lagi.

Tante masih terkesima dengan kontolku yang mempunyai panjang 13 cm dengan diameter 4 cm.

"Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama kontolku." Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya.
"Hmm, iya deh." Lalu tante mulai menjilat ujung jalantol.

Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal jalantol

"Ahh.. enak sayang, terusin hh." aku mulai meracau.

Lalu aku tarik kepala tante Ria sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ria. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.

"Ayo sayang, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini." Sambil tangan tante mengusap vaginanya.
"OK sayang" aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vag|na tante yang bersih.
"Shh.. ohh" tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku.
"Hh.. mm.. enak sayang, terus Ric.. yaa.. shh" tante mulai berbicara tidak teratur.

Semakin dalam lidahku menelusuri liang vag|na tante. Semakain kacau pula omongan tante Ria. "Ahh..Sayang..shh..sayang aku mau keluar." tante mengerang dengan keras.

"Ahh.." erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang.

Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.

"Hmm..kamu pintar sayang. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?" dengan manja tante memeluk tubuhku.
"Ehh, gimana ya tante.." aku ngomgong sambil melirik ke jalantol ku sendiri.
"Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya" tante sadar kalau jalantol ku masih berdiri tegak dan belum puas.

Dipegangnya jalantol ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok jalantol. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.

"Ric, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya." tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari kontolku.

Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Ria, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vag|na tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung kontolku ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. Perlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.

"Tante siap ya, aku mau masukin kontolku" aku memberi peringatan ke tante.
"Cepetan sayang, Fuck me sayang, ayo.. tante sudah gak tahan nih." tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan kontolku.

Dengan pelan aku dorong kontolku ke arah dalam vag|na tante Ria, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh kontolku sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.

"Sayang, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh" tante berbicara sambil merasa keenakan.
"Ahh.. shh mm, tanteku sayang ini cara Ricky agar tante juga merasa enak" Aku membalas omongan tante.

Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa kontolku ke dalam vag|na tante.

"Ahh.." kami berdua melenguh.

Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. vag|na tante Ria ini masih kencang, pada saat aku menarik kontolku bibir vaginanya ikut tertarik.

"Plok.. plok.. plokk" suara benturan pahaku dengan paha tante Ria semakin menambah rangsangan.
Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras "Ahh.. sayang tante nyampai lagi"

Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan kontolku masih menancap dan dijepit vag|na yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ria, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di kontolku.

"Sayang, aku mau keluar nih, di mana?" aku bertanya ke tante.
"Di dalam aja sayang, tante ingin merasakan sperma kamu sayang, dan tante juga mau lagi nih" sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun.

Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol.

"Arghh.. sayang aku nyampai".
"Aku juga sayang.. ahh" tante juga meracau.

Aku terus semprotkan cairan hangat ke vag|na tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.

"Sayang, kamu hebat." puji tante Ria.
"Sayang juga, vag|na sayang rapet sekali" aku balas memujinya.
"sayang, kamu mau kan nemani tante selama om pergi" pinta tante.
"Mau dong sayang, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?" aku balik bertanya.
"Gak apa-apa sayang, tante ingin punya anak dari kamu sayang. Jangan kuatir ya sayang" Tante membalas sambil tangannya mengelus kontolku.
"Ih.. sayang nakal ya." sambil aku menggigit kecil payudaranya yang sangat menantang.

Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.
Kejadian ini terus kami lakukan dimana saja, bila ada waktu kosong. Hingga tante Ria mengandung benih yang telah aku keluarkan ke rahimnya, dan aku telah mencicipi perawan anaknya dua-duanya, tapi akan kuceriatakan lain kali.


DISINI


Cerita Tante - Sama sam Gila Sex

Sama sam Gila Sex - Sejak pernikahan anakku Mimi dengan suaminya Harun, aku menajdi merasa ada sesuatu dalam tubuhku. Mulanya, aku mendengar suara desahan di kamar anakku. Aku menajdi sangat bernafsu. Sudah belasan tahun aku ditinggal cerai oleh suamiku, aku sudah tak merasakan persetubuhan yang terkadangm embuat vaginaku ingin di masuki oleh penis.

Selesai sarapan esok paginya, anakku pergi bekerja. Menantuku Harun hari itu tidak bekerja, karean memulai cuti tahunannya. Katanya dia ingin melanjutkan lukisannya yang terbengkalai. Hobbynya memang melukis dan lukisan mulai terjual agak mahal.
Begitu Mimi putriku pergi bekerja, aku keluar dari kamar mandi. Kusengaja hanya memakai handuk yang melilit tubuhku, hingga jauh di atas pangkal pahaku, yang putih mulus terlihat. Aku melintas di hadapan menantuku.

"Mama... kok gak pakaian?" tanyanya.
"Kenapa sih? Kan tak ada orang lain. Hanya kamu. Lagi pula, paha mama masih mulus kok," kataku agak manja merayunya.
Harun tersenyum.
"Mulus sih..." katanya.
"Mulus sih... mulus sih... tak sudah tua, siapa yang mau lagi?" kataku pula sembari terus melintasinya. Aku memasuki kamarku dan berganti pakaian. Aku cepat keluar dengan memakai daster miniku tanpa celana dalam dan bra.

"Tadi malam aku dengar desahan Mimi. Pasti malam ini dia bahagia sekali dan tidurnya nyenyak," kataku bergenit ria.
"Mama tau ya?" katanya.
"Aku jadi malu ma," katanya.
"Kenapa musti malu? Kalau Mama kebagian, mama juga mau," kataku keceplosan. Sebenarnya, aku sudah sangat bernafsu sekali melihat Harun menentuku bertelanjang dada dengan tubuhnya yang kekar.
Harun tersenyum menggoda.
"Boleh coba Ma? Tapi Mimi tak boleh tau lho," katanya.
"Siapa juga yang mau melapor pada Mimi," kataku.
Bagaikana setan Harun berdiri dan langsung memelukku dan melumat bibirku. Aku terkejut juga. Tapi kubalas kecupannya yang buas itu. Terasa olehku, kalau kontolnya sudah menegang. Kami bepelukan dan saling memagut. Perlahan kulepas celananya hingga kontolnya berdiri tegak.

Harun melepas dasterku. AKu tau dia terkejut, karena dibalik dasterku, aku tidak memakai apa-apa. Harun pun tersenyum. Kembali kami saling memagut. Di lantai dapur, aku direbahkannya. Langsung saja Harun menyetubuhiku dengan buas dan ganas. Aku seperti tak mampu mengimbanginya. Dan terus menerus mencucuk-cabut kontolnya di dalam vaginaku. Sampai akhirnya, aku merasakan beberapa kali muncratan spermanya di dalam rahimku yang sudah sangat basah, karena aku sudah dua kali orgasme.

Kami segera membersihkan diri ke kamar mandi. Tak banyak yang kami ceritakan. seperti keadaan biasa saja. Harun kembali melanjutkan melukis di taman belakang rumah. Setelah satu jam dia melukis, aku datang mengantarkan kopi susu panas untuknya.
Saat aku meletakkan kopi susu di atas meja kecil, tiba-tiba tengkukku ditarik Harun. Bibirku dikecup dan dilumatnya. Kami berciuman dan lidah kami saling melilit.
"Nungging, Ma," pintanya. Aku dibimbingnya menungging ke sebuah meja. Saat itu dasterku disingkapnya. Dengan cepat dilorotkannya celananya dan langsung menusuk vaginaku. Begitu aku merasakan kontolnya melesit memasuki lubang vaginaku yang sangat dalam, dia mulai mengocoknya dengan cepat, tanpa henti. AKu begitu cepat dipengaruhi nafsuku, hingga akuorgasme. Tak lama, aku merasa smprotan spermanya memenuhi liang vaginaku.
Kami kembali sama-sama membersihkan diri di kemar mandi. Pantas anakku Mimi selalu saja cerita, bisik hatiku.

Siag, aku membawa nasi dan lauknya ke taman belakang rumah. Kami makan bersama di sebuah pojok rymah yang sangat artistik, juga karya Harun. Kami makan lahap sekali.

"Ma, aku sudah mau ngentotin mama lagi nih," katanya.
"Eengak puas-puasnya?" tanyaku.
"Mimi tak mampu melayaniku, Ma," katanya.
"Cepat makan dulu," kataku. Harun makan cepat-cepat, demikian juga aku. Begitu minum air hangat, Harunlangsung menarikkua dan menciumiku. Melepaskan dasterku dan mengisapi teteku. Setelah puas, dia menguakkan pahaku dan menyetubuhiku dengan buasnya. Kembali kami membersihkan diri ke kamar mandi.

Begitu selesai bersih-bersih, Harun menyeretku ke tempatnya melukis.
"Telanjang, ma" katanya. AKu menurut saja. Harun juga membuka celana pendeknya hingga kami sudah bertelanjangbulat.
"Naik kemari ma" katanya. AKu mengangkangi ke dua pahanya dan aku duduk di pangkuannya. Perlahan kumasukkan kontolnya ke lubang memekku. Setelah amblas, Haru mengambil kuas. Dia mulai melukis sementara aku tetap berada di pangkuannya dengan kontolnya amblas ke dalam memekku.

Nafasnya memburu dan tangannya terus bekerja melukis. Mungkin inspirasinya muncul saat bersetubuh denganku sembari melukis. Aku sudah tak tahan. Aku mulai menggoyang perlahan-lahan dari atas. Nafasku juga memburu. Kami terus bersetubuh dan tangan Harun terus melukis, mencampur warna-warna dan menarik garis lurus dan lengkung.

"Mama... indah sekali. Aku ingin menjadikanmu isteriku yang kedua, secara rahasia," katanya dan terus melukis. AKu tak perduli pada ucapannya dan terus menggoyangnya.
"Mama... percepat ma. Cepat ma, Tinggal satu goresan lagi," katanya sembari mencampur warna warna di kuasnya.
Lalu dibuangnya kuas itu dan Harun memelukku sembari mengigit bahuku kuat-kuat. sakit sekali. Tapi sebaliknya aku merasakan kenikmata yang luar biasa.

"Mamamama...." teriaknya.
"Aku tak tahu, apakah tetangga mendengar teriakannya itu atau tidak. AKu memeluknya dengan kuat dan kuat serta merasakan semprotan spermanya dan aku pun mengalirkan air lezat nikmatku. Kamiterkulai dan merakan kenikmata yang tiada tara. Gila !!!

Malam pukul 02.00 aku tau, Harun belum tidur sedang memekku sudah berair. Aku keluar kamar dan sengaja berdehen di depan pintu kamar mereka. Aku ke kamar mandi. Aku tak tahu kenapa aku harus ke kamar mandi. Beberapa detik, aku di kamar mandi, Haruin masuk dan langsung menutup pintu. Dia menyuruhku enunging ke bak mandi. Dari belakang dia menggenjotku dengan cepat dan kencang, sampai buah dadaku terayun-ayun. Dia peluk pinggangku dari belakangh dengan kuat.
"Aku sudah mau sampai, Ma" katanya. Lalu dipeluknya dengan kuat sekali tubuhku dan aku langsung menyemburkan lend*r kenikmatanku dan beberapa detik kemudian, aku merasakan spermanya menyembur di liang mmemekku. Dengan cepat kami bersih diri dan memasuki kamar kami masing-masing. Malam itu aku tiodur dengan nyenyak.

Pintu kamarku diketuk dari luar.
"Ma, bangun sudah siang," ternyata suara Harun. Aku terbangun dan langsung ke kamar mandi sikat gigi.
Begitu aku keluar kamar mandi, di depan pintu Harun sudah berdiri dengan telanjang bulat.

"Kita ngentot ma. AKu sudah tak tahan," katanya. Siapa takut?
Kami langsung berpelukan dan melepaskan pakaian kami. Langsung kami bersetubuh di lantai depa kamar mandi.
Kami selalu bersetubu dimana saja, kapan saja. Anehnya, kami bisa sama-sma puas hanya dalam hitungan detik saja. Terkadang Mimi sedang menyapu di dari pintu depan. Belum sampai di di pintu tengah rumah kami sudah sama-sama orgasme. JIka kami sudah saling berpandangan dengan mata tajam, itu tandanya, kami sudah berada di puncak klimaks. Artintya, begitu jalantol Harun memasuki liang memekku, mungkin hanya sepuluh kali cucuk cabur, aku sudah orgasme dan Harun juga orgasme. Tak perlu lama, tapi frekuensinya tak tahu berapa kali kami mampu.
Aneh memang.


DISINI


Cerita Tante: Ngentot dengan Teman Kantor

Cerita Tante: Ngentot dengan Teman Kantor - Ini kejadian nyata yang pernah saya alami. Nama saya Eka (saat itu berumur 24 tahun), saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di ibukota. Kehidupanku biasa-biasa saja dan karena masih muda saya masih suka bersenang-senang dengan teman-teman. Saya ingat waktu itu malam Sabtu, kebetulan keesokan harinya libur saya dan teman saya dugem di sebuah club. Kebetulan sekali saya bertemu dengan rekan sekantorku yang bernama Heny. Dia wanita yang menarikwalaupun wajahnya tidak terlalu cantik, badannya kecil namun montok dan punya ukuran payudara yang menantang. Namun saat itu saya tidak ada perasaan apa-apa dengannya.
Akhirnya kami berdua duduk satu meja bersama teman-teman yang lain. Kami berdua menikmati minuman yang ada di meja. Teman2ku dan temannya entah pada kemana, kemudian kamipun menikmati musik dan saling berpelukan. Entah bagaimana bisa terjadi namun kami berciuman dan saling memainkan lidah. Setelah beberapa lama saya ijin untuk ke toilet, setelah di toilet barulah saya berpikir dan malu. Akhirnya saya tidak kembali ke meja tersebut.

Setelah di rumah saya melupakan semua itu dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ketika hari Senin masuk kerja, saya saling bertatapan dengan Heny, rupanya dia agak sedikit malu dan tersenyum kepada saya. Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga 1 tahun kejadian tersebut, kamipun sudah tidak canggung lagi dan berteman seperti rekan kerja biasanya.


Saat ada tour ke Bali beserta seluruh karyawan, saya dan Heny duduk bersebelahan di Bus yang disewa oleh perusahaan. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1 hari. Saat malam hari kami sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Ketapang. Saat itu Heny tertidur pulas. Entah mengapa pikiranku menuju ke tahun lalu saat berciuman dengannya, dan tiba-tiba kontolku berdiri tanpa sebab. Heny mengenakan selimut, dan dengan sengaja saya mengangkat pembatas / tempat menaruh tangan di tengah-tengah kursi kami berdua, sehingga Heny merebahkan kepalanya ke badanku. Pikiran kotorku tiba-tiba merasuk, dengan sengaja aku membuka sedikit kerah bajunya untuk melihat belahan dada Heny yang montok ini. Karena agak gelap saya pun menyenternya menggunakan HP, saya sedikit menikmati pemandangan itu, namun tiba-tiba Heny bergerak dan saya pun pura-pura tidur dengan jantung yang berdebar-debar. Hingga akhirnya saya pun tertidur pulas. Saya terbangun karena Bus agak terguncang, dan ternyata sudah naik ke atas kapal laut.

Di kapal laut ini kita semua harus turun, saya menawarkan Heny untuk menyewa kamar, dan ternyata diapun mau. Setelah masuk kamar yang harganya Rp60,000. Dia langsung tertidur tanpa berbicara apapun. Saya tidak bisa tertidur sama sekali karena terus membayangkan tubuhnya yang seksi. Entah ada setan apa yang merasuk sehingga aku ingin sekali ngentot dengannya. Namun rasa takutku lebih besar dari nafsu yang membakar otakku.

Saat 10 menit tertidur, saya mencoba berbuat usil lagi. Kebetulan saat itu dia memakai baju kemeja dan celana jeans ketat dengan sabuk berwarna kuning. Saya sengaja menyingkap selimutnya hingga ke perut, sehingga saya bisa melihat selangkangannya yang ditutupi celana. Saya agak terkejut ketika melihat sabuknya tidak diikat dan kancing celananya tidak dipasang dengan resleting yang hanya setengah tertutup. Saat itu posisinya terlentang, satu kakinya ditekuk dan satunya lagi tetap lurus. Saya mencoba membuka resletingnya dengan sangat pelan dan sangat mendebarkan. Setelah mencoba akhirnya resletingnya terbuka. Saya hanya bisa melihat celana dalamnya saja dan sengaja saya mendekatkan wajah ke celana dalamnya untuk mencium aroma memeknya. Kemudian saya menyentuhnya dengan hati-hati. Ketika ingin mencoba memasukkan jari ke dalam celana dalamnya bel kapal pun berbunyi, dan ternyata sudah hampir sampai. Saya pun berpura-pura tidur.

Setelah sampai di Bali, saya sangat ngantuk karena tidak sempat tidur karena terus saja “mengerjai” Heny sepanjang perjalanan. Tapi saya tetap menguatkan diri untuk mengobrol dengannya. Mungkin karena ngantuk atau entah mengapa saya tiba-tiba ngomong dan menawarkan untuk satu kamar di hotel yang telah disewa oleh perusahaan. Dan lagi-lagi dia mau, benar-benar beruntung. Saat sampai di hotel kami makan siang dan diberi kesempatan untuk istirahat hingga malam hari. Saya bertukar kamar dengan teman saya, kemudian saya menelpon Heny untuk pindah ke kamar saya dan dia bilang “Oke, sekalian saya mau mandi di sana”. Wah mendengar kata mandi kok tiba-tiba pikiran kotorku kembali membara. Saya terus berpikir bagaimana caranya dapat melihat tubuh Heny saat telanjang bulat.

Ide pertama saya ingin merekamnya saat mandi dengan cara menaruh HP berkamera, namun terlalu riskan dan bisa ketahuan. Akhirnya saya baru sadar, ternyata kamar mandi tersebut mempunyai celah yang kecil. Saya kemudian mengambil sebuah sendok besi yang dilengkapi dengan pisau untuk memotong roti. Saya membuat celah tersebut hingga menjadi lebih besar dan akhirnya berhasil.

Bel kamarkupun berbunyi, dengan jantung yang berdebar, saya membukakan pintu dan Heny masuk ke kamarku membawa sebuah tas yang isinya pakaian-pakaiannya. Kemudian kami ngobrol sedikit dan dia ijin untuk mandi. Inilah saat-saat yang sangat mendebarkan. Saya sengaja mematikan lampu di dekat kamar mandi agar tidak ketahuan saat mengintip. Oh ya sebelumnya saya mengikat tirai bath up agar Heny tidak menutup tirai tersebut. Saat air mulai berbunyi, saya pun memulai aksi untuk mengintip. Wow, pemandangan yang sangat indah. Heny telanjang bulat tanpa dililit sehelai benangpun. Dia membelakangi pintu sehingga saya puas melihat pantatnya yang semok, serta saat dia menyabuni kakinya dan sedikit menungging, pantat serta memeknya tampak sangat indah mengalahkan pemandangan apapun di muka bumi ini.

Karena sudah terlalu konak melihat kejadian ini, saya membuka celana dan kemudian beronani sambil mgintip Heny yang sedang mandi. Kocokan demi kocokan saya lakukan hingga air mani tumpah ke lantai di depan kamar mandi. Sayapun buru-buru mengelapnya takut ketahuan Heny. Setelah itu saya nonton TV dan akhirnya tertidur. Saat waktunya makan malam, Heny membangunkan saya, kemudian saya mandi dan memakai baju yang lebih rapi. Setelah makan malam ada sedikit kegiatan perusahaan, namun pikiranku tidak bisa fokus karena selalu terbayang pantat dan memek Heny.

Setelah acara selesai, kami berdua kembali masuk kamar, saat Heny pipis saya kembali mengintipnya, bahkan saat buang air besarpun saya tetap mengintipnya. Lama-kelamaan saya ingin sekali ngentot dengannya. Saya terus mencari cara, saya ingin berpura-pura nonton BF namun trik tersebut sangatlah bisa dibaca. Ingin memesan minuman dan memberikan obat perangsang, takut ketauan juga. Akhirnya saya pasrah dan hanya berharap dia masuk kamar mandi dan saya mengintipnya lagi.

Saat menonton TV kebetulan saat itu acara Dunia Lain yang mencekam. Kulihat Heny menutup badannya dengan selimut dan terlihat seidkit memejamkan mata, dan artinya itu dia takut. Kemudian saat sedang tegang-tegangnya saya ke kamar mandi, dan Henypun berteriak “Mau Kemana?” Aku jawab ke kamar mandi, tiba-tiba dia mengatakan “Ikuuuuut!!!”. Wah, mungkin dia sedang iseng, tapi ini membuat jantungku kembali berdegub kencang. Kemudian saya bilang “Ayooo ikut”. Ternyata dia serius, Heny membuka selimut dan berlari ke arahku sambil mengatakan “Jangan tutup pintunya, takut”. Aku mengatakan “Wah nanti ngintip kalo gak ditutup”, “Gak ngintip kok, tenang aja, saya cuma takut” Kata Heny. Tapi karena otakku yang sudah sangat merangsang dan nafsu sudah diubun-ubun, saya terus merayunya, “Kita di kamar mandi berdua yuk, intip-intipan” Kataku. Tiba-tiba dia melotot ke arahku dan akupun jadi takut. “Jangan melotot gitu ah, iya gak ditutup kok pintunya” Kata saya yang agak takut karena lancang berbicara seperti itu.

Setelah acara selesai, saya tetap tidak bisa tidur karena kontolku tetap saja berdiri tidak bisa turun. Kalau mani ini tidak disemprot keluar, maka saya tidak akan bisa tidur. Saat itu saya mendengar suara keypad HP, dan saya melihat ternyata Heny belum tidur. Saat itu sudah hampir jam 3 pagi, saya bertanya, “Hen, kok belum tidur?”. Dia balik bertanya “Kamu juga kok belum tidur?”. Saya dengan iseng menjawab “Abis kamu tak ajak ke kamar mandi berduaan gak mau” dan karena takut dia marah lagi saya langsung mengatakan “Bercanda kok, saya gak bisa tidur gak ada yang peluk sih” dan dia bilang “Sama”. Itu berarti dia ingin dipeluk. Saya menawarkan diri, “Saya aja yang peluk ya”, dan dia membalas “Boleh, sini”. Waaaawww, apakah ini sebuah keajaiban? Saya berpindah ke tempat tidurnya yang memang kebetulan double bed ukuran kecil. Saya sok cool berjalan ke arahnya dan kemudian memeluknya dari belakang. Saat memeluk perutnya, tanpa sengaja saya menyentuh payudaranya yang kenyal, rupanya dia tidak mengenakan Bra. Hampir setengah jam saya memeluknya, kemudian tiba-tiba dia memegang tanganku dan mengarahkan ke payudaranya. Ini berarti dia minta diremas. Dengan hati-hati saya meremas payudaranya, diapun melenguh pelan. Saat itu dia memakai daster.

Dengan berani saya mengarahkan tangan saya ke memeknya melalui belakang. Saya mengelus memeknya dan pantatnya yang masih dibalut celana dalam. Kemudian saya memasukkan tangan ke dalam celana dalamnya agar dapat merasakan hangat memeknya. Ternyata memeknya sudah sangat basah sehingga dengan mudah jariku masuk ke dalam lubang memeknya. Sambil memainkan lubang memek Heny, sesekali saya mengelus lubang pantatnya. Tangan kananku tetap meremas payudaranya. Tangan Heny ke arah belakang mencari kontolku dan kemudian mengocok kontolku dari luar.

Akhirnya saya membuka baju dan celana hingga telanjang bulat, Heny pun telanjang bulat. Karena nafsuku sudah diubun-ubun, aku mengarahkan kontolku ke mulutnya. Diapun dengan sigap mengulum kontolku sambil menekan pantatku. Tidak sampai 2 menit, air maniku keluar di dalam mulut Heny. Diapun tampak kecewa, namun hanya diam saja. Kemudian saya memeluknya dalam keadaan telanjang bulat.

Saat memeluknya dari belakang, entah karena mungkin kontolku terus bergesekan dengan pantatnya sehingga nafsuku kembali naik. Kemudian aku tidur berbalik dengan arah kepalaku di pantatnya. Aku membuka lubang memeknya serta menjilatinya dengan penuh nafsu. Tidak ketinggalan lubang pantatnya pun terkena jilatan saya.

Dia kembali mendesah, dan kemudian saya mengajaknya untuk bergaya 69 namun kali ini saya yang di atas. Setelah beberapa saat, saya kemudian mengarahkan kontolku ke memeknya dan menyodoknya sekeras mungkin. Kami berduapun mendesah sejadi-jadinya karena nafsu kami yang tertahan. Setelah beberapa menit kusodok, Heny kusuruh menungging. Sebelum kusodok, kembali aku menjilati memeknya dari belakang. Pemandangan yang sangat langka ini tidak akan kusia-siakan. Aku menjilati lubang memek dan lubang pantat Heny. Dia sangat menikmatinya, dan dengan iseng kucoba memasukkan jariku ke lubang pantatnya. Heny hanya diam saja.

Kembali kuentot dia dari belakang sambil jariku kumasukkan ke lubang pantatnya. Setelah beberapa menit, maniku keluar dan kutumpahkan di pantat Heny. Setelah itu kamipun tertidur pulas dalam keadaan telanjang bulat. Saat pagi, Heny membangunkanku, kulihat dia masih telanjang dan mengajakku untuk mandi samaan. Di kamar mandi kami ngentot sebelum mandi dan sarapan.

Sekarang saya telah menikah dan memiliki anak 1 yang baru berumur 3 tahun. Namun hingga kini saya sering ngentot dengannya.


DISINI

Cerita Tante: Gairah Nakal Wanita Karir

Cerita Tante: Gairah Nakal Wanita Karir - Saya adalah seorang pria yang berusia 23 tahun dan saya baru saja selesai kontrakku dengan salah satu perusahaan pelayaran luar negeri. Sekarang saya adalah pengangguran sebab saya tidak punya rencana untuk kembali berlayar setelah 2 tahun lamanya. Semua yang saya ceritakan dibawah ini adalah nyata. Memang cerita ini terlalu bertele-tele bila dibandingkan dengan cerita-cerita yang pernah saya baca di 17thn, namun inilah cerita yang ingin saya ceritakan bagi pembaca juga penggemar 17thn.

Cerita ini berawal dari seringnya saya pergi bolak-balik ke rumah sakit untuk menjaga papa saya di rumah sakit swasta di daerah Jatinegara, Jakarta Timur. Pada hari Minggu siang tanggal 5 November 2000, saya turun ke bawah tempat merokok di rumah sakit tersebut, namun di saat saya menikmati rokokku itu, di dekat tempat dudukku ada seorang wanita setengah baya yang kira-kira berumur 30 tahun. Ia tampak sibuk sekali menelepon sana-sini dengan handphone-nya untuk mencari jasa derek mobil untuk mobilnya. Entah karena saya merasa terganggu atau ada keinginan untuk membantu wanita itu, akhirnya saya beranikan diri untuk menawarkan jasa saya sebab siapa tahu kerusakannya masih sepele. Setelah mengumpulkan semua keberanian untuk menawarkan jasa saya akhirnya meluncur juga dari mulutku untuk membantu dia.


“Eee.. maaf Tante, kalo saya boleh tau, mobil tante rusak?” tanya saya dengan ragu-ragu.

“Iya Dik”, jawabnya singkat sambil tetap menghubungi seseorang dengan handphone-nya.

“Eee.. kalo boleh tau, Tante.. mobil Tante apa merk-nya?” tanya saya lagi.

“Honda, Honda Maestro”, jawabnya dan kali ini dia melihat saya.

“Kalo boleh, saya coba bantu Tante buat benerin mobilnya Tante, sebab siapa tau saya bisa, Tante!” kata saya menawarkan pertolongan.

“Eee.. boleh-boleh.. Ayo ke mobil saya yuk”, pintanya.

Setelah itu kita berdua jalan meninggalkan tempat itu untuk menuju ke mobil wanita itu, yang ternyata tidak jauh dari tempat merokok. Setelah saya dibukakan pintu, saya coba starter mobilnya tapi hasilnya nihil. Dengan kasus seperti ini, saya katakan pada wanita itu bahwa ada kemungkinan bahwa ini masalah dinamonya dan saya sarankan untuk mendorong mobilnya sebab tidak ada masalah sehingga dia bisa tiba di rumahnya atau bengkel sebelum kesorean dan tidak perlu memanggil jasa derek mobil karena biayanya yang mahal. Dan sepertinya dia berpikir sejenak dan dia setuju dengan saran saya, hingga akhirnya saya memanggil salah satu satpam yang saya temui untuk meminta pertolongannya untuk mendorong mobil.

Agh, akhirnya mobil wanita itu nyala juga dan seperti dugaanku bahwa masalahnya hanya masalah dinamo. Dengan posisi wanita itu di dalam mobil dan saya di luar sambil memperhatikan dia untuk meninggalkan saya, tiba-tiba dia memanggil saya dengan membuka kaca jendelanya dan mengucapkan terima kasih kepada saya sambil memberikan uang 2 lembar seratus ribu tapi saya tolak sebab pertolonganku adalah dari hati nuraniku bukan untuk meminta balasan namun dia tetap memaksa saya dan akhirnya saya ambil satu saja dan satunya lagi tetap di tangannya sambil mengucapkan bahwa itu saja sudah lebih dari cukup. Akhirnya dia mengalah karena saya tetap bertahan untuk tidak mengambil sisanya tapi dia membuka tasnya dan mengambil kartu namanya dan diberikan buat saya sambil menitip pesan bahwa kalau ada sesuatu atau saya sedang senggang diminta menghubungi dia, dan saya terima kartu namanya. Sebelum pergi, dia menanyakan nama saya sambil menyodorkan tangannya dan saya jawab bahwa nama saya Willi dan dia mengatakan bahwa namanya Lucy. Dan akhirnya ia pergi dengan mobilnya dan saya tetap berdiri melihat mobilnya hingga hilang ditelan sebuah tikungan ke kanan.

Dua hari setelah kejadian itu, papa saya meninggal dan saya sibuk menyelasaikan segala urusan yang berkaitan dengan papa saya mulai dari rumah sakit, rumah duka, dikremasi hingga jadinya Akte Kematian.

Setelah semuanya selesai dan saya kembali pada kehidupanku yang hanya menghabiskan hari demi hari saya dengan jalan-jalan dengan teman-teman saya ke sana ke mari. Hingga pada suatu hari di bulan Desember 2000, saya teringat kembali dengan wanita yang saya kenal di rumah sakit dan saya cari kartu namanya dan akhirnya ketemu. Akhirnya saya hubungi Handphone-nya walaupun di kartu nama itu ada nomor telepon rumah dan kantornya.

“Hallooo?!” terdengar jawaban seorang wanita dari sana.

“Dengan Lucy-nya ada? ini Willi”, jawab saya lengkap.

Sejenak terdiam dan terdengar, “Iya ini Lucy sendiri dan saya ingat kalo kamu yang nolong saya waktu saya di rumah sakit itu khan?” tanyanya yang terkesan menebak.

“Iya.. ini saya Willi yang waktu itu”, jawab saya.

“Eee.. gimana sekarang kamu, Will?” tanyanya.

“Lagi senggang nich”, jawab saya.

“Kayaknya untuk sekarang ini saya nggak bisa lama-lama ditelepon.. bagaimana kalau malam ini kita ketemu, saya mau traktir kamu makan malem, apa bisa?” sambungnya.

“Iya bisa. Saya nggak ada acara”, jawabku singkat.

“Oke kalo gitu kita ketemu di restaurant Tony’s Romas deket Ratu Plaza aja jam 7 malam ini, Oke? kamu tau khan?” jawabnya menjelaskan.

“Iya saya tau, Oke dech sampe nanti”, jawabku.

Seperti janjiku dengan Lucy, saya datang ke Restaurant Tony’s Romas dan saya tiba 10 menit lebih awal. Dan pilih tempat duduk yang kira-kira saya bisa lihat kalau ada orang yang datang. Tepat jam 19.00, Lucy datang, dan saya sangat terpana dengan pakaiannya yang begitu seksi. Dia mengenakan baju terusan warna merah dengan strip warna biru dengan model tali yang menggantung pada lehernya sehingga tampak dengan jelas punggungnya dan berarti dia tidak memakai BH dan rambutnya yang sepanjang bahu dia ikat ke atas sedang rambut depannya dibuat poni rata dengan alis matanya tapi dengan tekukan ke atas. Dadanya yang lumayan besar dan bulat seakan-akan mau keluar dari baju yang dia pakai. Wow, saya begitu terpana dengan apa yang saya lihat, tapi saya tidak terlalu terpana sebab saya harus memberitahu bahwa saya ada.

Saya mengangkat tangan mengisyaratkan siapa tahu dia melihat. Ternyata ada seorang waiter yang melihat dan sepertinya dia tahu bahwa saya memanggil Lucy, dan waiter itu pun mengatakan sesuatu pada Lucy lalu menunjuk pada arahku.

“Hi.. udah lama?” katanya membuka pembicaraan sambil duduk dan merapikan baju terusannya sepanjang mata kaki.

“Belum”, jawabku singkat.

“Eee.. kamu udah pesen? kalo belum, kamu mau pesen apa?” tanya dia.

“Belum, saya belum pesen apa-apa”,jawabku sambil membuka buku menu.

Setelah kita berdua memesan makanan, dan sambil menunggu makanan kami berbincang-bincang sana-sini dan akhirnya dia menanyakan bahwa mengapa saya ada di rumah sakit saat itu, dan saya jelaskan dan saya katakan pula bahwa papa saya sudah meninggal dan dia tampak kaget dan minta maaf kalau dia membuat saya sedih.

Acara makan malam saya bersama Lucy berlangsung lancar dan kita berdua mau pulang, dia memaksa mengantar saya pulang sebab selain hemat biaya lagipula ternyata rumah Lucy searah dengan saya, dia tinggal di daerah Kelapa Gading dan saya yang menyetir dengan ijin dia terlebih dahulu.

Dalam perjalanan, tanpa saya tanya, dia mengatakan bahwa dia sudah cerai dengan suaminya sejak anaknya berusia 6 bulan dengan alasan mantan suaminya itu punya simpanan. Saat dia menceritakan itu, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan sebab rasanya kalau diterus-teruskan mungkin akan membuat dia sedih dengan pengalaman pahitnya, hingga pada akhirnya mengatakan bahwa sebaiknya tidak perlu diteruskan sebab mungkin akan membuat dia ingat dengan masa lalunya itu tapi dia mengatakan bahwa dia ingin saya tahu dengan siapa yang dia kenal (maksudnya dia sendiri). Dari ceritanya, dapat saya simpulkan bahwa dia wanita karier yang lumayan bagus dengan kariernya.

Setelah dia selesai menceritakan semuanya, kita terdiam sejenak dan hanya tembang-tembang Ebiet G Ade yang kita dengar. Tapi dengan tiba-tiba dan membuat saya kaget, Lucy mendekatkan kepalanya dan menyandar diantara bahu dan ujung jok mobil. Saat itu saya tidak tahu harus bagaimana, jadi saya diam saja. Namun yang menambah kurang konsentrasinya saya dengan jalan adalah, setiap saya mengganti persneling, lengan saya bersentuhan dengan dadanya yang lumayan besar dan ini tidak mengubah cara dia duduk, dia tetap dengan posisinya. Setiap kali bersentuhan saya minta maaf padanya dan hati serta kemaluanku tegang. Rasanya saya teramat salah tingkah sebab selain menggangu pikiran saya, saya pun menikmati apa yang terjadi. Sampai pada akhirnya Lucy memecahkan kesepian pada saat itu dengan mengatakan, “Will, kamu sudah pernah bercinta?” Wah, rasanya seperti disambar geledek dengar pertanyaan Lucy. Setelah terdiam sebentar karena kaget, saya jawab pertanyaannya itu dengan jujur bahwa saya sudah pernah bercinta dan saya jelaskan pula bahwa itu dengan pacar saya. Lalu dia bilang, “Eee.. kayaknya kamu sekarang sudah terangsang ya dengan posisiku kayak gini ini?” sambil tangan kirinya dengan cepat meraba daerah kemaluan saya. Saya benar-benar terhenyak dengan sikap Lucy dan saya biarkan tangan kirinya meraba-raba dengan halusnya kemaluan saya dari celana panjang saya sebab selain inilah yang yang inginkan, saya pun lagi-lagi dalam posisi sulit.

Saya tidak tahu berapa lama dia meraba-raba kemaluan saya hingga pada akhirnya dia membuka reitsleting celana saya dan makin berani sehingga sekarang dia meraba-rabanya di celana dalam saya. Sambil meraba-raba dia bilang (dengan nada nakal dan manja), “Will, punya kamu ini besar ya?! panjang lagi.. dan kayaknya udah pengen maen nich.” Namun saya tidak memberi jawaban sebab selain saya tidak tahu harus menjawab apa, saya merasa sedang terbang.

Dan saya pun tidak tahu pasti berapa lama dia meraba-raba kemaluan saya dari atas celana dalam saya. Hingga pada akhirnya dengan tiba-tiba kepalanya seperti terjatuh ke daerah kemaluan saya dan dia menjilat-jilat celana dalam saya dengan tangan kirinya yang tetap meraba-raba rambut kemaluan saya yang mungkin sebagian keluar dari celana dalam. Saya yakin bahwa celana dalam saya sudah basah dengan air liurnya sebab rasanya sudah agak lama dia jilati. Tidak berapa lama setelah saya berpikir seperti ini, dia membuka celana dalam saya dan langsung menelan semua kemaluan saya. Wah, rasanya benar-benar nikmat dan saya benar-benar harus membagi dua pikiran saya antara kenikmatan yang sedang saya rasakan juga jalanan.

Karena saya pun terangsang dengan kuluman Lucy, dengan berani saya memegang dadanya dan meremas-remas kecil. Walaupun saya tidak melihat, namun saya dapat membayangkan bagaimana rasanya apabila saya menghisapnya. Wah, sulit dikatakan. Hingga pada saatnya, saya mengatakan pada Lucy bahwa saya rasa saya akan klimaks, tapi buru-buru dia menghentikan kulumannya dan mengambil posisi duduk normal. Dan dia bilang bahwa dia pun sudah terangsang dan ingin berhubungan seks. Dia mengajak saya menginap di salah satu hotel. Sebelum mengiyakan ajakan Lucy, saya katakan bahwa saya harus memberitahu sama orang rumah bahwa saya tidak pulang agar mereka tidak perlu menunggu saya.

Setelah semuanya sudah beres, akhirnya mobil yang kita tumpangi saya arahkan ke daerah Sunter, sebab saya tahu bahwa di situ ada hotel, walaupun saya belum pernah menginap di situ. Akhirnya kami tiba di hotel yang saya maksud dan saya beserta Lucy masuk dan mengurus urusan-urusan di Front Office di hotel itu, dan setelah semua selesai dengan biaya yang ditanggung Lucy, kami pun diantar ke kamar yang sudah dipilih dengan Bellboy.

Setelah mengecek sana-sini dalam kamar, akhirnya Bellboy meminta ijin untuk keluar setelah menghidupkan TV dengan Channel MTV. Dan setelah terdengar suara pintu kamar kami ditutup oleh Bellboy, saya dan Lucy dengan cepat saling berpelukan dan berciuman sambil berdiri karena sama-sama sudah tidak bisa menahan gairah seks masing-masing.

Lucy memang kelihatan sudah terangsang berat dan pandai berciuman sebab saya dapat merasakan permainan lidahnya yang sangat Hot. Sambil bermain lidah, tangan Lucy dan tangan saya saling meraba-raba bagian terlarang satu sama lain. Tangan kiri saya tetap memegang bagian belakang kepala Lucy sedang tangan kanan saya mengelus-elus bagian punggung Lucy yang terbuka dan mulus putih tanpa cacat, sesekali meraba ke bagian tekukan bawah payudaranya. Sesekali tercium olehku aroma parfum yang dia gunakan. Sedangkan tangan kiri Lucy menelusup ke bagian belakang celana saya sedang tangan kanannya merabanya dari depan mulai dari kemaluan saya hingga ke daerah pusar.

Lama-kelamaan, tangan saya membuka sebagian baju bagian dadanya sehingga saya dapat memegang dengan jelas bentuk payudaranya. Saya rasakan bahwa besar payudara Lucy terasa mantap dengan posisi jemari saya seperti mau mengambil payudaranya itu. Saya usap, elus dan mainkan puting susunya yang terasa makin lama makin agak keras. Dengan tetap sambil berciuman, memainkan lidah dan saling menggigit bibir bawah atau atas satu sama lainnya. Sedangkan tangan Lucy sedang berusaha membuka celana saya dengan membuka reitsleting celana dan berusaha membuka ikat pinggang saya.

Setelah celana saya dapat dibuka oleh Lucy, dengan sigap dia mengambil kemaluanku yang sudah tegang dari balik celana dalamku lalu memaju-mundurkan tangannya sambil tetap menggenggam kemaluanku. Sambil meraba-raba dan tetap memainkan puting susunya, tangan saya yang lain berusaha untuk membuka kancing yang terletak di leher belakang Lucy. Dan akhirnya saya dapat membuka kancing itu walaupun sedikit sulit sebab hanya dengan satu tangan. Begitu baju terusannya dapat saya buka, dengan otomatis baju terusan itu turun ke lantai sehingga payudara Lucy sekarang sudah tidak tertutupi sesuatu apa pun.

Dengan turunnya baju terusannya ke lantai, saya hentikan ciuman bibir dengan Lucy dan saya langsung mencium bagian dada kiri dan kanan Lucy yang begitu ranum dan kencang seakan-akan masih dalam pertumbuhan. Dalam setiap hisapanku atau permainan lidahku pada puting susunya, Lucy mendesah kenikmatan, “Uuuh.. aaghh.. enakk..” dengan sesekali menambahkannya dengan nama saya dan disertai denga nafas yang memburu. Sedangkan tangannya dengan bergantian tetap memegang kemaluan saya dan mengocoknya.

Setelah saya agak puas dengan payudaranya, jilatan, hisapan dan kecupan kecil saya mengarah ke bawah dan makin ke bawah dengan tetap diiringi desahan Lucy yang saya rasa sudah terangsang karena kenikmatan. Namun tangan saya tetap meraba serta mengelus-elus payudaranya. Hingga pada akhirnya tangan Lucy melepaskan kemaluan saya karena posisi kami yang tidak memungkinkan.

Jilatan dan kecupan kecil pada bagian bawah dada Lucy makin liar dengan makin tidak dapat mengontrol diri saya sendiri dengan gairah seks yang meluap-luap dan dengan sesekali saya membuka mata saya dan melihat bagian tubuh Lucy yang putih bersih serta mulus dan lembut. Saya pun dapat merasakan detak jantungnya yang makin kencang.

Sambil tetap menjilati dan memberi kecupan kecil, tangan saya dua-duanya meraba-raba bagian kemaluannya yang masih tertutup oleh celana dalam yang dia gunakan. Setelah saya meraba-raba dengan halus semua daerah kemaluannya serta bagian pantat Lucy, baru saya ketahui bahwa dia mengenakan celana dalam dengan model tali yang mana lekukan pada daerah lubang analnya berupa tali dan melingkari pinggangnya pun berupa tali yang diikat pada bagian pinggang kiri. Dan ini menambah gairah seks saya yang membludak.

Setelah dengan mudah dapat saya buka celana dalamnya, jilatan juga kecupan kecil, saya lanjutkan pada daerah kemaluannya hingga saya dapat merasakan bahwa saya sedang berada di beberapa centimeter di atas liang kewanitaannya. Daerah yang ditumbuhi oleh rambut-rambut yang tidak terlalu lebat dan terkesan dirawat rapi. Dan saya tetap menikmati dengan makin mendesahnya Lucy dengan apa yang saya lakukan pada tubuhnya.

Tangan saya pun mulai memainkan kemaluannya yang basah, saya meraba kemaluannya dengan jari telunjuk atau jari tengah saya dengan sesekali saya masukkan ke dalam kemaluan Lucy. Sedang jempol saya, saya naik turunkan di daerah antara kemaluannya dengan rambut kemaluannya.

Saya makin menikmati semua ini dengan menyentuh ujung lidah saya pada kemaluannya bagian atas. Tercium pula bau khas dari kemaluan Lucy. “Ughhh, Will.. sayaaang.. kamu pintar sekali, sayang..” rintih Lucy ketika saya menghisap-hisap klitorisnya dan sesekali menjilatnya. “Teruuus.. terus.. sayang.. agh.. ahhhh..” rintihnya sambil memegang kepala saya dengan kedua tangannya dan seakan-akan menekan wajah saya ke dalam kemaluannya. Waktu itu, saya agak sulit bernafas dengan posisi seperti ini, namun saya tetap menjilati dan memainkan klitorisnya.

Agak lama saya memainkan klitorisnya dan sesekali memasukkan satu atau dua jari saya ke dalam kemaluan Lucy. Mulanya yang sudah basah, sekarang hingga kering dan sekarang agak lembab dengan bercampurnya air liur saya. Mungkin karena saya yang terlalu menikmati yang sedang saya lakukan atau mungkin karena dia sudah terangsang, dengan tiba-tiba dari dalam kemaluan Lucy menyembur cairan hangat yang belum pernah saya temui sebelumnya. Dengan menyemburnya cairan itu dari dalam kemaluan Lucy, makin didorongnya kepala saya ke arah kemaluan Lucy dan kali itu saya merasa sulit sekali bernafas namun kejadian itu tidak berlangsung lama sebab setelah itu, Lucy melepaskan kepala saya sehingga saya dapat bernafas kembali. Namun saya tetap menjilati dan menghisapnya yang terasa agak lengket dan sedikit bau amis.

Tak berapa lama setelah cairan itu menyembur, Lucy mengangkat kepala saya, yang maksudnya agar saya berdiri. Saya pun berdiri dan wajah saya dekat dengan wajahnya. Dan Lucy menciumi bibir saya dengan masih adanya sisa cairan yang menempel di bibir dan lidah saya. Ganas sekali dia menciumi saya yang diiringi dengan permainan lidah dan terengah-engah nafasnya.

Setelah puas berciuman, Lucy menghentikannya dan mengatakan, “Will, sekarang gantian.. saya yang mau menikmati tubuh kamu.” Sebelum aba-aba atau jawaban dari saya, Lucy langsung membuka kaos saya dari bawah dan menelusupkan satu tangannya ke atas ke bagian dada saya. Sambil mengelus-elus dada saya, dia bilang bahwa dada saya lapang, tidak seperti suaminya yang seolah-olah mempunyai buah dada. Lucy pun mengatakan bahwa perut saya tidak gendut, seperti peminum minuman keras.

Setelah saya membuka kaos saya sendiri, dengan segera Lucy memulai kecupan kecil di daerah dada saya dan sesekali menjilatinya, sedangkan tangannya menuju pada kemaluan saya dan seperti semula, dia memaju-mundurkan kemaluan saya. “Aaah.. aaah.. enak, Luc”, desahku kenikmatan karena selain dijilati atau dikecup, kemaluanku pun dikocok-kocok dengan pelan-pelan namun pasti. Seperti halnya yang saya lakukan pada tubuh Lucy, Lucy pun menjilati, mengecup dan menghisap semua bagian depan tubuhku dan makin lama makin ke bawah hingga akhirnya pada kemaluanku.

Pada saat di kemaluanku, Lucy langsung mengulumnya seakan-akan mau menelan semua kemaluanku yang kira-kira panjangnya 16-18 centimeter. “Aaagghh.. aah.. eeenak, Luc!” desahku agak keras tidak bisa menahan rasa nikmat yang saya rasakan begitu Lucy memainkan lidahnya di bagian lubang kemaluanku. Tidak bisa saya ungkapkan kenikmatannya dan saya benar-benar menikmati apa yang saya rasakan.

Lama sekali Lucy menghisap, menjilat, mengulum dan memainkan kemaluan saya, dia pun menjilati lubang anal saya. Hingga pada akhirnya terlintas dalam pikiran saya untuk menyelesaikan pemanasan ini dan memulai berhubungan seks.

Seperti halnya yang Lucy lakukan pada saya dengan mengangkat kepala saya dari kemaluannya, begitu pula yang saya lakukan untuk menghentikan kulumannya pada kemaluan saya. Saya angkat kepalanya dan saya dekatkan wajahnya kepada saya lalu menciumnya dengan kecupan-kecupan sesekali menciumnya dengan sedikit memainkan lidah.

Saya pun menuntun Lucy untuk tiduran di kasur dengan posisi telentang. Setelah saya beri ciuman dan sedikit kecupan kecil pada bibirnya, saya memegang kemaluan saya dan mengarahkan pada liang senggamanya. Kedua kakinya yang telah dibuka olehnya membuat saya lebih mudah untuk memasukkan kemaluan saya. Sambil memasukkan kemaluan saya, saya lihat raut wajah Lucy. Dia tampak mengejamkan kedua matanya sambil mendesah, “Ooohh.. eeemhhh..” lalu menahan nafas sejenak, sedangkan kedua tangannya memegang kedua pantat saya lalu mencekeramnya agak keras.

Sambil mengeluarmasukkan kemaluan saya ke kemaluan Lucy, saya menekuk kedua kakinya dengan kedua tangan saya sehingga telapak kaki dan tulang keringnya terangkat. “Uuughh.. esshhh.. aaahh.. eenak.. sayang..” desah Lucy sambil memejamkan matanya. Saya pun mendesah kenikmatan dengan keluar masuknya kemaluan saya di dalam kemaluan Lucy. “Aaahh.. eeessh.. Luss.. eenak..”

Kira-kira kami melakukan posisi itu selama 5 menit, lalu saya angkat kedua kakinya sehingga menghimpit kepalaku dan tetap mengeluarmasukkan kemaluanku. Dan saya tidak tahu berapa lama saya dan Lucy melakukan posisi ini hingga akhirnya Lucy menarik saya untuk mendekatkan kepala saya dengan kepalanya, lalu dia mendekap punggung saya dengan erat bahkan saya merasa sangat keras. Dan mendesah panjang, “Eeenghhh… eeesshhh.. eeenakk..”

Lalu Lucy menghentikan sebentar dan mengeluarkan kemaluan saya dari kemaluannya. Ia lalu menungging dan saya tahu maksudnya dan tanpa disuruh olehnya, saya mengarahkan kemaluan saya untuk kembali menghujam kemaluan Lucy. Sambil memegang kedua belah pantatnya bagian atas, saya tetap mengeluarmasukkan kemaluan saya dan sesekali saya melihat reaksi Lucy yang mengangkat sedikit kepalanya ke atas dan sesekali mengibaskan rambutnya sambil mendesah-desah kenikmatan, “Aaaghh… eeesshh.. terus sayang..”

Rasanya lama sekali melakukan hubungan seks, hingga saya merasa sedikit kelelahan begitu juga Lucy, hingga saya putuskan untuk mempercepat gerakanku. Makin kupercepat kemaluanku di dalam kemaluan Lucy. Dengan makin kupercepat gerakanku, makin terdengar dengan jelas suara gesekan antara kemaluan saya dengan kemaluannya yang telah diulasi oleh cairan dari kemaluan Lucy. Saya pun sesekali memegang payudaranya dengan kadang meremasnya sebab saya rasa payudaranya akan naik turun dan menggantung karena posisinya.

“Aaakhh.. enakk!” desah Lucy sedikit teriak.

“Luc.. saya mau keluar nich.. eeesshh..” desahku pada Lucy.

“Keluarin di dalem aja, Will.. eesshh..” jawabnya sambil mendesah.

Hingga akhirnya saya merasa bahwa saya akan mencapai puncak, saya agak menunduk mengikuti posisi Lucy yang menungging dan saya pegang kedua buah dadanya sambil sedikit meremas keduanya. “Uuugghh.. aaaggh.. eeenak Luss” teriakku agak keras dengan bersamaannya sperma saya yang keluar dan menyembur di dalam kemaluan Lucy.

Setelah saya berdiam sejenak setelah ejakulasi, saya keluarkan kemaluan saya dan saya tuntun tubuh Lucy untuk membalik sehingga kami dapat berpelukan. Sambil saling memeluk, Lucy mengatakan bahwa saya hebat dan dengan ijin saya, dia ingin menceritakan ini pada temannya. Waktu itu, saya katakan bahwa tidak ada masalah andai dia ingin menceritakan ini pada temannya sebab (waktu itu) saya pikir, Lucy tidak akan mengenalkan temannya itu pada saya.

Kami pun hening sejenak sambil tetap saling berpelukan dan tubuh masih dalam keadaan telanjang bulat dan saya pun masih dapat mencium bau parfum yang Lucy gunakan. Dalam keheningan itu, terdengar dengan samar-samar lagu When You Said Nothing At All yang dibawakan oleh Ronan Keating dari pesawat TV yang ada. Kami pun secara bersamaan tersentak dan ingin melihat. Lalu kami saling meregangkan pelukan kami, dan Lucy mengambil remote Tv yang berada di atas meja dekatnya lalu menambah volume suaranya. Setelah itu, Lucy mengajak saya untuk berpelukan lagi, saling mendekap lagi sambil menikmati lagu Ronan Keating tersebut.

Saya lihat jam tangan, jam menunjukan pukul 12.45 dini hari. Dan kami pun tertidur hingga kita berdua bangun bersama-sama sekitar jam 07.00 pagi, karena ada seberkas sinar matahari.

Setelah mandi, akhirnya kita sepakat untuk keluar dari hotel tersebut dan Lucy mengantarkan saya pulang hingga di depan rumah, setelah itu dia akan kembali ke rumahnya hanya untuk mengganti pakaian dan diteruskan ke kantor.

Di dekat rumah, Lucy mengatakan bahwa dia sangat puas dan ingin mengulang kembali apa yang terjadi tadi malam dan dia mengeluarkan sejumlah uang yang saya kira cukup banyak buat saya. Katanya saat itu, “Will.. ini buat kamu.. siapa tau bisa bantu-bantu kamu kalau kamu pengen beli sesuatu..” namun belum selesai penjelasannya, saya jawab bahwa saya tidak mau menerima uang sesen pun dari dia sebab apa-apa yang saya lakukan adalah karena atas dasar suka sama suka dan saya pun mengatakan bahwa saya akan merasa sangat terhina kalau dia tetap memaksa saya untuk menerima uang itu.

Akhirnya dia mengalah dan kita terdiam sejenak dan dia mengambil handphone-nya dan mengatakan bahwa itu adalah pemberian dari dia bukan balasan atas yang saya lakukan, dia pun menjelaskan agar dia dapat menghubungi saya. Setelah saya pikir-pikir sambil dia tetap berharap agar saya menerima itu, akhirnya saya mau juga karena saya pikir handphone ini tidak akan selamanya, saya dapat mengembalikannya suatu saat nanti.

Setelah tiba di rumah, saya pun memohon diri dan sempat memegang tangannya bahwa apa yang dia rasakan antara saya dan dia, mungkin yang saya rasakan pada saat itu.

Hari itu Lucy menelepon saya dua kali lewat handphone-nya, yang pertama mengatakan bahwa dia sudah tiba di rumah dan yang kedua adalah dia sudah berada di kantor.

Sejak itu, Lucy tidak pernah menghubungi saya lagi. Tadinya saya pikir bahwa dia sibuk, dan saya pun sadar dengan posisi saya. Hingga akhirnya saya dihubungi seorang wanita lewat handphone pemberian Lucy. Wanita itu mengatakan bahwa Lucy pernah cerita semuanya tentang hubungan saya dengan Lucy mulai dari mula hingga akhir, dan wanita ini mengatakan bahwa dia ingin mengatakan sesuatu pada saya dan ingin ketemu dengan saya.

Hingga pada akhirnya saya setuju untuk bertemu tanggal 8 Desember di suatu Mall. Dalam pertemuan tersebut, wanita itu yang seumur dengan Lucy yang mengaku sebagai temannya dan mengaku bernama Julliet ini mengatakan bahwa ada pesan dari Lucy untuk mengatakan yang sebenarnya pada saya bahwa Lucy telah bersuami dan sudah 1.5 tahun belum dikarunia anak dan dikatakan bahwa suaminyalah yang tidak mampu berproduksi sebab Lucy secara diam-diam sudah memeriksakan dirinya tanpa sepengatahuan suaminya, dan pesan Lucy yang terakhir adalah dia menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya untuk saya sebab Lucy tidak ingin bertemu dengan saya lagi. Julliet ini pun mengatakan bahwa ia ingin melakukan hal yang sama seperti Lucy namun bukan dengan tujuan untuk memiliki anak sebab ia mengatakan bahwa ia dan suaminya tanpa masalah dalam memproduksi anak, yang jadi masalah adalah suaminya yang setelah selesai hubungan seks, ia selalu langsung meninggalkan Julliet tidur. “Jadi, andai Lucy hamil, ada kemungkinan bahwa itu adalah benih saya”, pikirku.



DISINI