Exit Jangan Lupa Klik Like Ya

TANTE LIA SIAP SIAP ML

TANTE ANGGUN PAKE DRESS KETAT

Tante Sisca Lagi Horni

Cerita Tante: Pembantuku Bertoket Jumbo

Nama saya Andi, seorang karyawan di sebuah bank terkemuka di indonesia .Saya akan menceritakan kisah saya yang terjadi pada saat saya masih 3 SMU. pada saat tinggi saya 175 cm berat 55 Kg. dan saya berotot pada saat itu karena sering angkat barbel yang 3 kiloan dan sit-up setelah bangun tidur setiap hari. ya cukup menarik perempuan saat itu sehingga saya dapat seorang wanita cantik di SMU. Tetapi saya tidak akan menceritakan saya tidur dengan pacar saya karena saya tidak pernah ngesex denganya dan tentu saja cerita hubungan pacar atau pasutri itu tidak menarik. Saya akan menceritakan tidur dengan pembantu saya, Paini, Seorang wanita desa yang Ndeso dan lugu.

Dia hanya lulusan SD dan pengetahuan sexnya sangat rendah. Masa artinya perawan saja tidak tahu, dia mengira perawan itu susunya kencang dan pantatnya kencang, dan yang tidak perawan itu susuny6a kendor dan pantatnya gantung. masih ada aja yang percaya begituan di era globalisasi. Umurnya masih 19 tahun, masa keemasan. Tingginya hanya 160-an cm dan beratnya sekitar 45 kg. Kulitnya putih dan halus seperti wanita jawa lainya. wajahnya pun bisa dibilang lumayankarena putih mulus tak berjerwat. Toketnya ukuran jumbonya itu membuat pria didesanya sering menggodanya. sayapun tertarik dengan ukuran besarnya. ukuran yang bisa dibilang kebesaran, 36B, itu adalah nomor yang saya dapatkan ketika mengobok-obok lemarinya ketika dia ke pasar.

BH murahan itu kadang saya cium dan hisap aromanya. oh wanginya BH ini dan kadang-kadang saya juga mencium CD nya dan sesekali menumpahkan mani saya di celananya yang kemudian langsung saya bersihkan agar tidak ketahuan. dan kalau anda melihatnya naik sepeda ontelnya dan melewati jalan berbatu atau polisi tidur, toketnya goyang dengan indah. pria mana yang tidak ngaceng melihat pemandangan ini. dan apabila mandi, saya sering melihatanya dengan one way mirror yang saya taruh di kmar mandinya. melihat dia dengan rambut basah atau penuh busa serta melihat dia menyabuni payudaranya dan vaginanya yang dipenuhi bulu tipis yang dicukur membuat saya berfantasi tidur denganya. sesekali saya juga melihat dia menykur jembutnya atau mencukur bulu kakinya di kamar mandi juga membuat junior saya tegang. atau melihatnya menyuci mobil, oh alangkah seksinya dia ketika saya melihatnya dengan baju yang ngeplat BH dan putingnya karena basah dan tentunya saya lanjutkan dengan choli atau ngocok. Tidur denganya?, tidak saya tidak berani karena takut hamil. tetapi karena saya perkembangan teknologi yang memungkinkan tidak bisa hamil maka niat saya tidur denganya hidup lagi.

Suatu hari, Orang tuaku beserta adikku pergi ke luar kota untuk mengahadiri resepsi pernikahan. Sedangkan saya tidak ikut karena saya ada ulangan di sekolah. tetapi ibu saya ingin saya ikut dengan minta ujian susulan. tapi saya menolak dengan pelbagai alasan karena kalau ujian susulan nggak bisa nyontek. akhirnya ortuku beserta adikku meninggalkanku. Kemudian saya belajar(lebih tepatnya membuat contekan buat besok) dan langsung tidur. kemudian saya menegrjakan ulangan dengan contekan dan setelah pulang sekolah saya langsung pulang ke rumah. setelah iu saya main PS2 sampai malam bersama teman saya dan setelah selesai teman saya langsung pulang. tidak terasa sudah malam. saya meminta Paini untuk masak. "Paini...Paini..." saya teriak memanggil paini. mungin karena terlalu keras dia lari terbirit-birit dari ruang tv ke hadapan saya. pada saat lari. susunya bergoyang kemana-mana di balik baju kekecilanya otomatis membuat saya ngaceng. kemian saya langsung mengambil koran dan menutup penis saya dibalik celana pendek yang saya pakai.
"paini, sudah masak nasi belum?"
"waduh saya lupa"
"masak nasi tuh kan lama, bisa setengah jam, gimana sih kamu?"
"Maaf mas andi, saya lupa"
"makanya dikurangin nonton sinetronya"
"sekali lagi maaf mas..."
"ya udah, gapapa kok, lauknya apa"
"terserah mas"
"kalo gitu, nugget aja yang di kulkas"
"oke mas"
"kalau gitu saya mandi dulu, nanti kalo udah selesai saya dipanggil ya"
"nggih mas"
itu adalah percakapan pendek saya dengan paini. kemudian saya mandi denganbersih dan menggunakan baju sepak bola dan celana pendek.
"mas, makananya sudah selesai", itu suara paini memanggil saya. kemudian saya langsung makan. "mbak makannya sudah selesai" suaraku dengan lantang. kemudian dia datang dan membersihkan meja dan menyuci piring dan saya ke ruang keluarga dan sekilas melihat tv yang sudah hidup yang ditonton oleh nya. ternyata sebuah sinetron, ah,mengapa orang suka menonton junk ini. kemudian saya gonta ganti channel, ternyata semuanya sinetron karena lagi "prime timenya"
"mas, kok diganti sih?" katanya yang saya tidak ketahui sudah duduk dibawah
"mbak masih nonton yang tadi?, itu kan jelek"
"bagus lo mas, itu episode terakhir lo mas"
"plis mas" kata itu diulang berkali kali
"ya udah deh"
kemudian saya mengembalikan ke channel semula dan saya mengambil majalah olahraga karena saya anti-sinetron. dan kami sering bincang-bincang ringan. ya seputar kehidupan saya di sekolah dan cerita dia. kemudian beberapa menik kemudian sinetron itu di ending dan sepasang manusia berciuman yang tentunya disensor seperti hanya keliatan punggungya.
"yah, kok cuma punggungnya sih?"
"namanya juga di indonesia, nggak boleh diliatin"
"iya mas, sinetron lain juga begitu"
kemudian saya melenceng dari topik
"emang mbak nggak tau ciuman"
"nggak pernah mas, takut hamil"
"duh ini orang goblog banget ciuman kok hamil" kataku dalam hati
"mbak, ciuman itu nggak bikin hamil"
"emang mas pernah nyium mbak dina ya?" pertanyaanya malah balik ke saya. dina adalah pacarsaya
"nggak pernah, dina kan solehah", kataku. pacarku memang solehah, sayapun kalau berpacaran selalu disuruh membawa adikku. pas nembak diapun setengah mati, dia setuju, tetapi kedua orang tua juga harus setuju. itu permintaan. tapi saking cintanya. maka saya menurutinya.
"Ooooo" katanya
"masak mbak nggak pernah?"
"betulan nih nggak pernah sama mas jay". jay adalah mantan pacarnya di desa. saya mendapatkan informasi ini dari mengorek HPnya
"nggak, saya cuma dicium pipi sama mas jay"
"oooo, mbak pijatin dong"
kemudian saya telungkup di sofa dan paini memijat saya.
"paini, kamu kok nggak punya pacar sih"
"nggak tau mas"
"loh, kok nggak tau sih"
"iya nih"
"padahal kamu itu cantik", rayuan gombalku keluar
"ah mas bisa aja"
"kok kamu putus sih sama mas jay"
"dulu mas jay ngajak begituan, tapi saya malu kemudian kami putut"
"loh kok malu"
"mmmm", dia bergumam
"jawab dong"
"saya malu buka baju"
"loh kok buka baju takut?, mbak ini aneh"
"mmmm" dia bergumam lagi, lama sekali
"mbak, jawab dong, budek ya"
"mmmm"
"oi jawab dong", kataku kesal
"anu mas, saya mau jawab tapi jangan bilang sapa-sapa ya", ucapanya lirih
"oke deh"
"janji ya mas"
"IYA!", ucapan saya dengan nada menekan
"saya malu dengan susu saya"
ucapan ini membuat saya ngaceng plus rangsangan darinya merijat pada dalamku. otomatis penis saya tertekan
"aduh"
"kenapa mas?"
saya bingung haru menjawab apa
"di situ sakitnya, dipijitnya disitu terus aja"
berarti aku menambah kesakitan penisku
kemudian saya melanjutkan pembicaraan yang tadi terputus
"kenapa?"
"kata teman saya, kegedean, terus saya juga risih kalau naik sepeda sering diliat orang mas, aku isin mas"
"kataku payudaramu bagus kok"
"ah mas ini bisa aja. coba ada opersi negecilin susu"
"ada tapi harganya selangit, kamu kuat?, nanti operasi di luar negeri"
"saya nggak kuat mas kalo segitu"
"bagus kok susumu paini, wanita2 itu pada ingin dibesarin kok kamu dikecilin" kataku memuji
"terus susu kamu bikin tambah kamu jadi sexy loo", kataku memuji lagi
"ah mas ini", mukanya merah tersipu malu-malu
"terus muka kamu kan cantik", pujianku menjadi-jadi
"tapi kan aku tetep gadis desa mas, kampungan, ndeso", katanya merendahkan diri
"kamu bisa kok jadi gadis kota, gadis yang ada di sinetron-sinetron itu"
"ah yang bener mas, gimana caranya?", katanya
"ya dari baju sikap dll"
"baju, kayak gimana mas?"
"kalo ini kamu harus percaya diri, kamu pake tanktop atau rok mini"
"malu mas"
"udah, kamu coba dulu, saya beliin deh"
"duh, nggak enak mas"
"udah, gak papa kok"
kemudian dia ke kamarnya dan mengambil uang
"nggak papa nih mas, masak saya nyuruh majikan beliin baju"
"oh nggak papa kok, ini kan demi kamu juga, lagipula saya juga ingin keluar"
"makasih ya mas, jadi nggak enak nih"
"udah tenang saja kok"
kemudian saya keluar dengan naik sepeda motor saya dan pergi ke toko pakaian yang terkemuka. mumpung lagi sale. saya memilih tang top pink, rok jeans mini dan sebuah G-string. tapi masalahnya saya risih membawa pakaian perempuan. apalagi membawa g-string. oleh karena itu, saya mencuri pakaian daripada diketawain sama kasirnya. saya memasukan barang tsb di balik jaket saya yang seharusnya tadi dititipkan penitipan barang, tapi, karena orangnya nggak ada, saya nyelonong aja. dengan perasaan santai saya keluar dan langsung mengendarai motor ke rumah
"kemudian agar keliatan beli, saya diam-diam ke dapur dan mengambil kantong kresek yang ada logo sebuah toko baju
"ini paini bajunya"
"waduh, makasih banget mas, saya harus ganti brapa?"
"nggak usah ganti, gratis kok"
tetapi wajh senang itu 360 derajat menjadi malu setelah melihat pakaian yang ada di dalam kantong tersebut"
"mas, nggak salah nih?"
"betul kok, kamu pasti seksi dan cantik pake itu"
"kamu mandi dulu, terus baru pake itu, biar tambah cantik"
"tapi mas, nanti paha sama belahan susu saya kelihatan lo mas"
"nggak papa kok, kan susu kamu gede terus kulit kamukan putih jadi cantik kok"
"tapi kan saya jadi malu"
"tenang, kan cuma ada saya dan kamu doang, jadi nggak usah malu"
"iya deh mas, tapi cuma semalam saja ya"
"iya, tapi nanti kamu jangan pake beha"
"loh mas, kok nggak pake beha?"
"kamu tahu nggak kalo pake beha bisa bikin kanker payudara nanti matinya cepat kayak artis yang diinfotaiment itu", kataku menakutinya
"saya jadi takut mas"
"makanya kamu nggak usah pake beha aja terus, buang aja behamu, terus kamu pake CD yang saya beliin,"
"iya mas"
"Sabunanya yang banyak ya"
kemudian saya menunggu beberapa menit dan akhirnya keluar juga. waduh, cantik bener, terlihat paini dengan tanktop V-neck sehinggaputingnya ngeplat dan belahan dadanya yang besar serta terlihat kakinya dan pahanya mulus yang ingin aku raba-raba. betul-betul membuat saya ngaceng sampai sakit yang kemudian menyembul dibalik celanaku, dengan cepat aku duduk dan langsung mengambil bantal yang kemudian saya taruh diatas paha
"gimana mas andi" katanya berusaha menutupi bagian dadanya
"waduh paini kamu seksi dan cantik banget"
"makasih mas andi"
"mas jay pasti nyesel mutusin kamu kalo liat kamu kayak begini"
"ah mas andi bisa aja deh"
"kamu itu aslinya cantik dan seksi lo paini"
"mas tapi ada yang nyelip"
"nyelip?"
"iya mas"
"apaan?"
Dengan malu dia berkata" anu mas, kolor tali yang mas beliin"
"oh nggak papa kok, ayo duduk disofa"
kemudian dia duduk di hadapan saya
"gimana, enak nggak?"
"nggak enak mas, yang bawah nyelip, terus yang atas ngetat mas, nggak pake beha lagi mas, puting saya kelihatan ya mas?,saya malu sekali mas, ternyata jadi gadis kota itu susah"
"puting kamu keliatan bikin kamu jadi tambah seksi kamu kayak di film-film lo, kamu jadi model aja paini"
"ah, mas ini bisa aja, nanti kalau paini jadi model, nanti yang ngurus mas siapa?"
"udah paini, nggak usah ditutup-tutupin susumu, santai aja, kan yang liat cuma aku, kalo kamu kecilin susumu, mungkin kamu nggak jadi seksi lagi lo"
"tenang, cuma saya dan aku, aku nggak gigit kok, aku jaga rahasia kita berdua"
"hihihi" akhirnya senyumnya mengembang juga
"mas, aku boleh salin ndak?"
"jangan ganti, nanti saya ajarin biar tambah seksi dan naughty"
"mas andi, kok kayak lagunya tata yang"
"nanti biar kamu seksi kaya tata young"
kemudian saya memutar VCD tata young, kemudian lagu sexy, naughty & bitchy keluar
keluarlah keluar tata young yang seksi itu
"tata young aja berani diliatin didunia malah, kok kamu dihadapan saya aja kok malu"
"tata young kan cantik, kalo saya apanya cantik"
"udah, sekarang kamu menutup mata, bayangkan kamu tata young"
"iya mas"
kemudian dia meniru gerakan tata young sambil nyanyi, meskipun englishnya kagok, tapi gerakanya sangat sensual. kedua tanganya meraba pahanya, pyudaranya dan tentu saja membuat saya ngaceng. setelah bernyanyi, Paini menjadi percaya diri, dia tidak menutupi tubuhnya lagi. tanpa saya sadari, rupanya dia terangsang, terlihat dari putingnya sudah berkembang. Saya menganggap ini kesempatan emas untuk ML denganya
"mbak, kalo udah nyanyi ayo duduk disini"
"iya mas"
paini langsung duduk di sampingku
"mbak haus kan, saya juga haus"
"kok tau sih mas andi ini, saya ambil jus jeruk di kulkas ya"
"udah, bia saya yang ambil, mbak kan capek abis joget"
kemudian saya langsung mengambil jus jeruk dikulkas dan mengambil gelas di dapur. Kemudian diam-diam saya mengambil obat perangsang milik kedua orang tua saya di kotak obat. kemudian saya menelan 2 obat perangsang sekaligus dan 1 obat saya tumbuk menjadi bubuk dan saya masukan ke dalam jeruknya. kemudian saya langsung ke ruang keluarga, saya pun juga ngaceng terus, dan tidak saya tutupi yang mungkin bisa menambah rangsangan dia juga
"ini mbak jus jeruknya"
"slruupp" jus jeruk itu langsung diminum sampai habis
kemudian efek obat itu bekerja. terlihat paini mengipas-ipas tubuhnya dan puting susunya membengkak
kemudian kami mulai ngobrol lagi
"mbak, masa sama mas jay cuman cium pipi?"
"iya, mas"
"mbak, pengin tau nggak rasanya mulut mbak dicium? kayak disinetron?"
"mau, kayaknya enak"
"kalo saya ajarin cium mulut orang mau nggak?"
"saya takut mas"
"katanya tadi mau, kok sekarang takut sih?"
"mmmm" dia bergumam lagi
"udah, gini aja, kamu saya cium, kalo nggak enak nggak usah dilanjutin"
kemudian saya suruh menutup mata, kemuadian saya mendekatkan bibir saya dan kami saling berciuman sekitar 10 detik
"gimana mbak, enak?"
"enak ya mas"
"ini ada satu ciuman lagi tapi kamu harus juga aktif, nanti lidah kamu ke lidahmu dan lidahku ke lidahkmu
kemudian kepalaku sedikit di miringkan dan kami melakukan french kiss cukup lama sekali. kemudian bibirku berpindah kekupingnya dan kucium kupingnya dan aku julurkan lidahku ke lubang telinganya "uhh.. geli mas" kemudian saya cium lehernya yang wangi "enak mas enak lagi mas ohh.." dan kuberikan tanda merah di lehernya. kemudian saya turunkan tali tank topnya "jangan mas, malu" tetapi kuteruskan saja dan kemudian saya melihat kedua bukit kembar yang yang putingnya sudah menonjol keras, kemudian saya remas-remas kedua bukitnya "mas, pelan saja" kemudian kuturunkan temponya dan ku cubit-cubit kecil payudaranya . setelah itu saya pilin-pilin putingnya. dia mendesah menggelinjang "ohh...ahh... geli mas" sungguh indah pemandangan ini. kemudian saya emut-emut payudaranya kananya dia teriak-teriak "ohh yea yess ahhh" dan tanganya meremas payudara kiri. setelah beberapa menit saya pindah dan beberapa menit kemudian saya menjulurkan lidah saya ke pusarnya yang bersih itu dan kedua tangan saya aktif meremas kedua payudaranya. posisi ini susah karena perut paini bergoyang terus saking nikmat yang kuberikan untuknya. kemudian kedua tangan saya turun ke roknya dan pelorotkan roknya."mas jangan mas ahh jangan mas malu ohh" pada saat ini masih sempet-sempetnya dia untuk bilang tidak. kemudian munculah G-string biru muda, warna kesukaanku kemudian kuraba, rupanya sudah basah. kemudian aku raba bibir vaginaya yang sudah merah merekah."ahh enak" kemudian aku pelorotkan juga g stringnya sehingga sudah terlihat paini si toket gede bugil denganpayudata yang mingkin sudah bertambah bear 25% dengan puting mengeras dan vagina basah yang sudah merekah siap untuk ditidur kemudian saya menyuruh paini untuk membuka bajuku. setelah itu dia memelorotkan celanaku sehinnga terlihatlah CD ku yang menyembul. kemudian saya berkata "paini, kamu sudah siap ntuk melihat penis saya sayang?", "sudah siap mas" kemudian dia melorot kan celanaku dan "toing" penis ku menyembul keluar, penis dengan jembut keriting dan penis kokoh sekitar 18 cm dengan diameter 3 cm.
"emut donk say..."
"diemut?!"
"iya diemut, dijilat"
"nggak brani ya say?"
"iya mas..."
rupanya dia rada ngeri dengan penisku, kemudian saya kk dapur dan mengambil susu kental manis dan mengambil ceres. kemudian saya oleskan susu kental manis coklat itu sampai memenuhi penis ku dan dan kuberi ceres warna-warni di penisku
"biar mbak nggak takut, ini saya beri coklat bia enak oralnya, emut sam pai habis"
"iya mas"
"jangan lupa, jangan sampe burung mas kena gigi, nanti lecet"
kemudian dia mulai menjilat penis saya, awalnya menjilat tapi kelama-lamaan mengemut "ah enak sekali paini terus ahh yess" yang lama kelamaan sampai mulutnya penuh dan saya menjambak rambutnya. hisapanya seperti orang yang sudah sering nyepong. dia menjalankan perintah. beberapa menit kemudian "croot-croot" saya melepaskan mani saya pertama dimulutnya. anehnya penis saya tidak mengkerut, mungkin ini efek dari obat tersebut."mas kok buang pejunya di mulut mabak sih?", "kamu tau nggak mani itu mempunyai protein yang banyak?,telan aja" kemudian dia menurut dan cairan putih kental itu dia telan sampai habis, kemudian giliran saya menjilat vaginanya. kuraba vaginanya dan kucari clitorisnya. dia mendesah "ahh enak mass lanjut mass" dan kemudian keluar juga dan kubersihkan dari mulutku
dan sekarang mungkin saatnya penis saya menerobos vaginanya. "mbak, mungkin ini rada sakit, tapi setelah itu nikmatnya keluar", dan saya sudah bersiap memasukanya. kemudian tangan saya dipegang, "mas, nanti kalo hamil gimana mas?","kalo kamu hamil aku tanggung jawab". kemudian sayaberusaha memasukan penis perlahan-lahan rupanya ketika kepala penisku pengenai dinding vaginanya, "uhh, perih mas" kemudian saya memasukan penis 1 cm dan keluar lagi, kemudian saya masukan penis 2 cm dan keluar lagi dan terus-terus menerus danakhirnya aku merasakan ada dinding "duh mas perih sekali, "udah kamu siap-siap ya say". kemudian saya menekan dengan keras "Aaaaa..." paini teriak dengan keras. kemudian aku mulai gerakan maju-mundur dengan posisi missionaris dan sesekali saya minta agar penis saya dijepit diantapa penisnya. "ah-ah-ah-ah" muka kesakitan paini berubah menjadi muka penuh kenikamatan
"oh oh oh lebih cepat mas" kemudian saya mempercepat gerakan penis saya "nikmat mas terus mas uhhh ahhh yes yess" desahan paini yang membuatku bersemangat. setelah itu kami berganti posisi favorit (katanya) doggy style. saya menyuruh marni membentuk seperti ****** dan kemudian saya mulai menyodok vagina paini. "ah ah mas terus mas ah ah" sedankan saya memukul pantanya sampai merah dan setelah itu saya jambak rambutnya seperti cowgirl . tetapi rasa sakit itu sepertinya ditutupi oleh sodokan maut penis ku. dan beberapa menit kemudian paini "mass mau pipis ahh","udah keluarin aja". dan kemudian dia menegluarkan cairan kental dan beberapa menit kemudian "croot...croot..." saya juga mengeluarkan cairan hangat yang kental di vaginanya. setelah itu kami french kiss dan tidur bersama di kamar tidur ortuku sambil bugil. kemudian tidak terasa sudah pagi rupanya. paini masih teridu pulas dan saya membanguninya.
"Mbak, bangun mbak udah jam 9 pagi mbak"
kemudian dia bangun dengan tubuh lemas " loh, kok sudah jam 9 pagi"
"laper mbak"
"mas andi mau makan apa"
"roti selai aja deh, gimana mbak permainan semalam?, enak nggak?"
"enak banget mas, besok-besok lagi ya mas"
"iya"
"mas, tapi nanti kalo aku hamil gimana mas"
"udah tenang aja, nanti beli pil anti hamil aja"
"mas nakal deh" katanya mencubit putingku
"kamu nakal juga deh" kemudian aku mencubit payudaranya
"kamu jangan pake baju dulu yach" pintaku
"iya, tapi mas juga"
kemudian paini pergi ke dapur dan aku pergi ke kamarku untuk mengambil CD BF pinjeman temanku untuk memberikan pendidikan macam posisi ngeseks. kemudian terdengar suara dari dapur "mas andi, selainya rasa apa?, stroberi,coklat,nanas apa kacang?"
kemudian muncul lagi pikiran ngeresku untuk menidurinya
"bawa aja semua selainya. sekalian bawa ceres sama madu sayank"
"buat apa?"
"liat aja nanti deh"
kemudian kami berkumpul lagi di ruang keluarga. saya menyetel film biru kualitas DVD. terlihat dari kover disknya dengan judul hardcore xxx yang kata teman saya katanya ngeseks di bermacam posisi dan di berbagai tempat seperti di kantor,rumah sakit, hutan, lapangan, air terjun dll dan orangya bermacam seperti chinesse,arabian,india dan lokal ,dll. sedangkan paini sudah menaruh roti dan barang yang saya inginkan. kemudian kami menonton film tersebut bersama paini sabil makan roti. wah rupanya film ini berdurasi 45 menit. Ternyata benar kata sohibku ini film ini memberi pengetahuan posisi macam-macam dan tempat settingannya keren. baru menonton adegan buka baju penis saya bengkak lagi. sedangakan paini masih santai-santai saja. para model yang digunakan betul-betul pro dan cakep-cakep dan cantik-cantik. dan saya paling suka melihat salah satu adegan 1 tante-tante girang yang luar biasa cantiknya serta tubuh yang sangat sempurna dientot 3 orang. saya juga suka melihat orang india yang mukanya seperti aiswarya rai yang toketnya ukuran jumbo, saya taksir 39c ditiduri oleh pria india perkasa. dan kemudian film itu selesai
"mas andi, minta jatah lagi dong, saya melihat paini yang waow payudaranya betul-betul membengkak, tidak seperti kemarin. putingnya pun lebih besar. kemudian saya menumpahkan semua sirup dan selai saya oleskan ke tubuh saya dan tidak lupa untuk memberikan ceres ke tubuh saya kemudian saya menyuruh membersihkan tubuhku dengan lidah. kemudian dia menjilat tubuhku dengan ganas dan terakhir mengemut penis saya. mungkin karena kelewat nafsu yang membara. Paini menngemut dengan sangat pintar dan kemampuan sedotanya kayak mesin pompa betul betul enak sekali tidak kaya kemarin. sedotanya mungkin bisa membuat penis saya panjang,"uh-ah alamak enaknya terus ah sedot trus yess ahhh uhhh" desahanku sambil menjambak rambutnya" beberapa meni kemudian saya menumpahkan mani di mulutnya dan dia langsung mengemutnya, tapi kali ini penis saya mengekrut.
"loh mas, kok ini mengkerut sih nggak kayak kemarin?"
"kan ini nggak pake obat sayang kayak kemarin"
"kalo ukuranya segini gimana masukinya dong?"
"semua laki-laki tuh kayak gini kalo abis keluarin peju, kamu harus bikin saya rangsangan biar ngaceng lagi"
"rangsangan apaan?"
"pokoknya sesuatu yang bikin aku ngaceng seperti menari bugil atau laninya"
oh kamu tiru ini aja, lebih gila juga boleh"
sebetulnya penis saya dipijit-pijit juga udah ngaceng tapiu saya mencari cara untuk mengulur waktu
kemudian aku ke kamarku mengambil DVD porno lagi yang ceritanya seorang wanita super eksibisionis membuat pria horny. kemudian aku menyetelnya untuk paini. sedangkan aku kamar tidur untuk merenggangkan otot.
setelah selesai saya melihat paini masih menonton film itu dan beberapa menit kemudian film itu selesai. kemudian paini menggunakan bajunya lagi. "loh kok pake baju lagi",tanyaku. "buat pertunjukan, nanti juga copot lagi". dia menyuruhku untuk duduk di sofa agar saya bisa menikmatinya. rupanya dia ingin meniru yang ada di film barusan. setelah selesai pakai baju dia bilang action maka akting nya di mulai. Dia berjalan berjalan seperti peragawati dan matanya selalu menlirik padaku dengan kedipan nakal. kemudian dia stop di depanku. kemudian dia jong kok dengan paha terbukan lebar memamerkan vaginaya karena tidak menggunakan kolornya kehadapanku kemudian berdiri lagi. kemudian dia mengambil botol air mineral dan menumpahkan di rambut bajunya seperti tidak sengaja. kemudian terlihatlah kedua putingnya yang menambah keseksianya. kemudian dia kelihatan seperti megusap bajunya. yang kemudian kedua tangan itu mengusap dadanya yang basah karena air itu. kemudian dia dia seperti ketagihan mengusap payudaranya dan memegang pyudaranya. Spontan burungku sudah berdiri tapi belum maksima. kemudian dia memilin-milin putingnya yang rupanya terangsang sendiri. dia memuntir muntir putingnya dan tentu desahanya "ah-uh ohhh" yang membuat saya horny maksimal. kemudian setelah memuntir dia kemudian dia duduk berhadapan di kursi. dia terlihat membuka pahanya yang spontan sudah membuat jatah. tapi rupanya belum berakhir. paini kemudian mengusap-usap pahanya dan mulai meraba-raba bibir vaginanya. kemudian diamulai memasukan 3 jari sekaligus ke dalam vaginanya. kemudian dia mulai mengocok jarinya di vaginaya. pertunjukan panas ini sangat mendebarkan yang dimana ini kejadian "live show" yang sangat panas. eranganya ketikan memaskuan jarinya "ah-uh ahhh" membuat pria manapun ngaceng. kemudian setelah berselang berapa menit, paini meng akhiri mastur basinya. cairan kental sudah ada di jarinya. kemudian saya tepuk tangan dan sebuat ciuman jdat.
"Wah rupanya paini pinta berakting"
"ah bisa aja mas andi, saya kan cuma meniru yang ada di tv"
"karena kamu berhasil membuat saya ngaceng ayo kita bertanding"
"paini, boleh nggak saya anal sex?"
"Anal sex, apaan tuh?"
"Anu,ngesex tapi di pantatmu"
"MMMM" paini
"plis, munkin rada perih, tapi saya ingin coba"
"boleh mas"
kemudian paini telungkup dan saya beri bantal di pantanya serta penis saya sudah pas ke panatatnya
"saya masukin ya, sakitnya ditahan ya"
kemudian saya memasukan penis saya, setiap saya masukin, paini mendesis kesakita. saya suruh untuk masturbasi. kemuadian saya menaikan temponya. ternyata benar. dijepit pantan itu enak rupanya. "ahh....uhh...." semakin lama semakin cepat "ahh...uhhh..." eranaganku. "ahh nikmat sekali dijepit pantatmu paini !". dan beberapa menit kemudian saya menghentikan aksi ini. saya kasihan paini merasa kesakitan. kemudian saya suruh untuk berbalik badan. rupanya dia sudah berlinagan air mata. kemudian saya mengecup matanya.
"sudah paini"
"loh mas kok nggak sampai puncak"
"saya kasihan sama kamu paini"
"ah nggak papa kok mas sapai selesai, yang penting mas andi senang"
"udah nggak saya terusin analnya, sekarang gini aja, kamu diata saya dibawah, kamu pasti senang"
kemudian kita bertanding dengan posisi woman on top atau wanita diatas. dengan posisi ini saya melihat wajah paini berubah 360 derajat. "ahhhh...uhhhh....."desahan ini selalu keluat apabila paini memasukan penisku. semakin lama desahanya semakin jadi "wow, yess ah yess", semakin lama temponya semakin cepat. dan akhirnya
"mas, paini mau keluar"
"mas andi juga keluar, kita keluar sama-sama yuk"
"kita hitung ya 3..."
"dua..."
"satu..."
"croot" akhirnya kami langsudn lemas bersama
"ayo paini, kita bikin penutupan"
"iya mas"
"sekarang kamu pijit-pijit penis saya biar berdiri lagi"
kemudian paini memijit batang kemluanku dan akhirnya ngaceng lagi"
"sekarang kita bertanding di kamar mandi sambil mandi biar bersih"
"mau di kamar mandi, di dapur siapa takut!"
saya heran dengan ini cewek kok nggak capek ngesex ya, mungkin gara-gara pengalaman pertama)
kemudian saya gotong dia ke kamar mandi dan saya setel air hangat
kemudian kami saling menyabuni dan membilas satu dengan lainya. setelah itu kami sikat gigi dengan cara unik. saya sikat gigi dengan odol yang banyak sekali. kemudian saya sikat sehinngga busanya bertumpahan. kemudian busa itu saya tranfer lewat french kiss yang lama dan saya begitu juga kumur kumur tapi airnya air bersih maksudnya air yang dari keran saya masukan ke mulut saya langsung saya beri ke paini jadi tidak saya gunakan kumur dahulu. setealah itu kita ngesex posisi standing yaitu paini saya senderkan di tembok kemudian kinya ditekuk ke atas dan saya menembus vaginanya. rupanya posisi ini membuat saya menguras banyak energi dan bikin capek tetapi tertutupi oleh kenikmatan duniawi dan setelah beberapa menit saya menegeluarkan mani terakhir saya di vaginanya dan kami saling mengeringkan badan dan memakai baju kembali
dan setelah ini paini merapihkan rumah. Sejak peristiwa ini kami sering melakukan hubungan sumai istri apabila dirumah hanya kami berdua. dan karena sex ini mendongkrak nilai raport saya lebih bagus. dan kalau ulangan nilai saya menjadi lebih bagus dan tanpa menyontek. bahakan nilai UAN saya 100 besar sejawa timur bahkan saya bisa masuk universitas terkemuka di bandung. meskipun jauh dengan kampung halaman sesekali kami masih berhubungan badan apabila saya pulang kampung. dan apabila saya dibandung, saya selalu menyuruh paini untuk merawat payudaranya dan meminum jamu perapet vaginanya. tetapi sayang, ketika saya sudah semester II, dia mengundurkan diri dengan alasan ingin menikah. Tapi rupanya dia ke surabaya kata ibunya. kata ibunya juga dia mengubah nama menjadi Aini, mungkin ingin menghilangkan image kedesaannya. kata ibunya dia kesana menjadi perawat katanya tetapi saya kurang percaya keran dia tidak bersekolah keperawatan. entah tidak tahu kenapa dia ke surabaya mungkin mendapatkan pekerjaan baru disana apa jual diri di lokalisasi Dolly. selamat tinggal paini si toket gede.

Tante Girang Pakai Lingeria Kuning Lagi Horny




Foto Hot Tante Girang diatas merupakan sebagian kumpulan foto seksi model yang pernah ada. Dengan menggunakan lingeria kuning menambah keseksian tubuh cewek model diatas. Pasti setiap mata memandang akan terpesona dengan kecantikan dan keseksian tubuh tante tersebut. 

Tante Andi Soraya dan Tante Marini Zumarnis


Andi Soraya (born in Jakarta, 18 Juni 1976; age 32 years) is woman star Indonesia. Her parents Andi Zen and Laela star career in entertainment as model and film sinetron Air Mata Terakhir. Actress from Cirebon-Bugis as star on advertisement as: Prenagen, B-29, Vegeta, Bank Mandiriand Hit. On 2008, Andi play film Anda Puas, Saya Loyo (2008).

    
 
  

Marini Kartika Sari Zumarnis call as Marini Zumarnis, (born in Jakarta, 24 Maret 1976) is star sinetron and advertisement star. Her career as Ibu Peri on sinetron Bidadari.

   
 










Tante Ani..Guru Cantikku

Tante Ani..Guru Cantikku

Waktu itu aku masih kelas 3 SMU. Hari itu aku ada janji dengan Agus, sahabatku di sekolah. Rencananya dia mau mengajakku jalan-jalan ke Mall A?a,?EsXA?a,?a"? sekedar menghilangkan kepenatan setelah seminggu penuh digojlok latihan sepak bola habis-habisan. Sejam lebih aku menunggu di warung depan gang rumah pamanku (aku tinggal numpang di rumah paman, karena aku sekolah di kota yang jauh dari tempat tinggal orangtuaku yang di desa). Jalan ke Mall A?a,?EsXA?a,?a"? dari rumah Agus melewati tempat tinggal pamanku itu, jadi janjinya aku disuruh menunggu di warung pinggir jalan seperti biasa. Aku mulai gelisah, karena biasanya Agus selalu tepat janji. Akhirnya aku menuju ke telepon umum yang ada di dekat situ, pengin nelpon ke rumah Agus, memastikan dia sudah berangkat atau belum (waktu itu HP belum musim bro, paling juga pager yang sudah ada, tapi itupun kami tidak punya).
“Sialan.. telkom ini, barang rongsokan di pasang di sini!,” gerutuku karena telpon koin yang kumasukkan keluar terus dan keluar terus. Setelah uring-uringan sebentar, akhirnya kuputuskan untuk ke rumah Agus. Keputusan ini sebenarnya agak konyol, karena itu berarti aku berbalik arah dan menjauh dari Mall A?a,?EsXA?a,?a"? tujuan kami, belum lagi kemungkinan bersimpang jalan dengan Agus. Tapi, kegelisahanku mengalahkan pertimbangan itu. Akhirnya, setelah titip pesan pada penjual di warung kalau-kalau Agus datang, aku langsung menyetop angkot dan menuju ke rumah Agus.
Sesampai di rumah Agus, kulihat suasananya sepi. Padahal sore-sore begitu biasanya anggota keluarga Agus (Papa, Mama dan adik-adik Agus, serta kadang pembantunya) pada ngobrol di teras rumah atau main badminton di gang depan rumah. Setelah celingak-celinguk beberapa saat, kulihat pembantu di rumah Agus keluar dari pintu samping.
“Bi.. Bibi.. kok sepi.. pada kemana yah?” tanyaku. Aku terbilang sering main ke rumah Agus, begitu juga sebaliknya Agus sering main ke rumah pamanku, tempatku tinggal. Jadi aku sudah kenal baik dengan semua penghuni rumah Agus, termasuk pembantu dan sopir papanya.
“Eh, mas Didik.. pada pergi mas, pada ikut ndoro kakung (juragan laki-laki). Yang ada di rumah cuman ndoro putri (juragan wanita),” jawabnya dengan ramah.
“Oh.. jadi Agus ikut pergi juga ya Bi. Ya sudah kalau begitu, lain waktu saja saya ke sini lagi,” jawabku sambil mau pergi.
“Lho, nggak mampir dulu mas Didik. Mbok ya minum-minum dulu, biar capeknya hilang.”
“Makasih Bi, sudah sore ini,” jawabku.
Baru aku mau beranjak pulang, pintu depan tiba-tiba terbuka. Ternyata Tante Ani, mama Agus yang membuka pintu.
“Bibi ini gimana sih, ada tamu kok nggak disuruh masuk?”, katanya sambil sedikit mendelik pada si pembantu.
“Udah ndoro, sudah saya suruh duduk dulu, tapi mas Didik nggak mau,” jawabnya.
“Eh, nak Didik. Kenapa di luaran aja. Ayo masuk dulu,” kata Tante Ani lagi.
“Makasih tante. Lain waktu aja saya main lagi tante,” jawabku.
“Ah, kamu ini kayak sama orang lain saja. Ayo masuk sebentar lah, udah datang jauh-jauh kok ya balik lagi. Ayo masuk, biar dibikin minum sama bibi dulu,” kata Tante Ani lagi sambil melambai ke arahku.
Aku tidak bisa lagi menolak, takut membuat Tante Ani tersinggung. Kemudian aku melangkah masuk dan duduk di teras, sementara Tante Ani masih berdiri di depan pintu.
“Nak Didik, duduk di dalem saja. Tante lagi kurang enak badan, tante nanti nggak bisa nemenin kamu kalau duduk di luar.”
“Ya tante,” jawabku sambil masuk ke rumah dengan perasaan setengah sungkan.
“Agus ikut Om pergi kemana sih tante?” tanyaku basa-basi setelah duduk di sofa di ruang tamu.
“Pada ke *kota X*, ke rumah kakek. Mendadak sih tadi pagi. Soalnya om-mu itu kan jarang sekali libur. Sekali boleh cuti, langsung mau nengok kakek.”
“Ehm.. tante nggak ikut?”
“Besuk pagi rencananya tante nyusul. Soalnya hari ini tadi tante nggak bisa ninggalin kantor, masih ada yang mesti diselesaiin,” jawab Tante Ani. “Emangnya Agus nggak ngasih tahu kamu kalau dia pergi?”
“Nggak tante,” jawabku sambil sedikit terheran-heran. Tidak biasanya Tante Ani menyebutku dengan “kamu”. Biasanya dia menyebutku dengan “nak Didik”.
“Kok bengong!” Tanya Tante Ani membuatku kaget.
“Eh.. anu.. eh..,” aku tergugup-gugup.
“Ona-anu, ona-anu. Emang anunya siapa?” Tante Ani meledek kegugupanku yang membuatku makin jengah. Untung Bibi segera datang membawa secangkir teh hangat, sehingga rasa jengahku tidak berkepanjangan.
“Mas Didik, silakan tehnya dicicipin, keburu dingin nggak enak,” kata bibi sambil menghidangkan teh di depanku.
“Makasih Bi,” jawabku pelan.
“Itu tehnya diminum ya, tante mau mandi dulu.. bau,” kata Tante Ani sambil tersenyum. Setelah itu Tante Ani dan pembantunya masuk ke ruang tengah. Sementara aku mulai membaca-baca koran yang ada di meja untuk.
Hampir setengah jam aku sendirian membaca koran di ruang tamu, sampai akhirnya Tante Ani nampak keluar dari ruang tengah. Dia memakai T-shirt warna putih dipadu dengan celana ketat di bawah lutut. Harus kuakui, meskipun umurnya sudah 40-an namun badannya masih bagus. Kulitnya putih bersih, dan wajahnya meskipun sudah mulai ada kerut di sana-sini, tapi masih jelas menampakkan sisa-sisa kecantikannya.
“Eh, ngapain kamu ngliatin tante kayak gitu. Heran ya liat nenek-nenek.”
“Mati aku!” kataku dalam hati. Ternyata Tante Ani tahu sedang aku perhatikan. Aku hanya bisa menunduk malu, mungkin wajahku saat itu sudah seperti udang rebus.
“Heh, malah bengong lagi,” katanya lagi. Kali ini aku sempat melihat Tante Ani tersenyum yang membuatku sedikit lega tahu kalau dia tidak marah.
“Maaf tante, nggak sengaja,” jawabku sekenanya.
“Mana ada nggak sengaja. Kalau sebentar itu nggak sengaja, lha ini lama gitu ngeliatnya,” kata Tante Ani lagi. Meskipun masih merasa malu, namun aku agak tenang karena kata-kata Tante Ani sama sekali tidak menunjukkan sedang marah.
“Kata Agus, kamu mau pertandingan sepakbola di sekolah ya?” Tanya Tante Ani.
“Eh, iya tante. Pertandingan antar SMU se-kota. Tapi masih dua minggu lagi kok tante, sekarang-sekarang ini baru tahap penggojlokan,” Aku sudah mulai tenang kembali.
“Pelajaran kamu terganggu nggak?”
“Ya sebenarnya lumayan menggangu tante, habisnya latihannya belakangan ini berat banget, soalnya sekolah sengaja mendatangkan pelatih sepakbola beneran. Tapi, sekolah juga ngasih dispensasi kok tante. Jadi kalau capeknya nggak ketulungan, kami dikasih kesempatan untuk nggak ikut pelajaran. Kalau nggak begitu, nggak tahu lah tante. Soalnya kalau badan udah pegel-pegel, ikut pelajaranpun nggak konsen.”
“Kalau pegel-pegel kan tinggal dipijit saja,” kata Tante Ani.
“Masalahnya siapa yang mau mijit tante?”
“Tante mau kok,” jawab Tante Ani tiba-tiba.
“Ah, tante ini becanda aja,” kataku.
“Eh, ini beneran. Tante mau mijitin kalau memang kamu pegel-pegel. Kalau nggak percaya, sini tante pijit,” katanya lagi.
“Enggak ah tante. Ya, saya nggak berani tante. Nggak sopan,” jawabku sambil menunduk setelah melihat Tante Ani nampak sungguh-sungguh dengan kata-katanya.
“Lho, kan tante sendiri yang nawarin, jadi nggak ada lagi kata nggak sopan. Ayo sini tante pijit,” katanya sambil memberi isyarat agar aku duduk di sofa di sebelahnya. Penyakit gugupku kambuh lagi. Aku hanya diam menunduk sambil mempermainkan jari-jariku.
“Ya udah, kalau kamu sungkan biar tante ke situ,” katanya sambil berjalan ke arahku. Sebentar kemudian sambil berdiri di samping sofa, Tante Ani memijat kedua belah pundakku. Aku hanya terdiam, tidak tahu persis seperti apa perasaanku saat itu.
Setelah beberapa menit, Tante Ani menghentikan pijitannya. Kemudian dia masuk ke ruang tengah sambil memberi isyarat padaku agar menunggu. Aku tidak tahu persis apa yang dilakukan Tante Ani setelah itu. Yang aku tahu, aku sempat melihat bibi pembantu keluar rumah melalui pintu samping, yang tidak lama kemudian disusul Tante Ani yang keluar lagi dari ruang tengah.
“Bibi tante suruh beli kue. Kue di rumah sudah habis,” katanya seolah menjawab pertanyaan yang tidak sempat kuucapkan. “Ayo sini tante lanjutin mijitnya. Pindah ke sini aja biar lebih enak,” kali itu aku hanya menurut saja pindah ke sofa panjang seperti yang disuruh Tante Ani. Kemudian aku disuruh duduk menyamping dan Tante Ani duduk di belakangku sambil mulai memijit lagi.
“Gimana, enak nggak dipijit tante?” Tanya Tante Ani sambil tangannya terus memijitku. Aku hanya mengangguk pelan.
“Biar lebih enak, kaosnya dibuka aja,” kata Tante Ani kemudian. Aku diam saja. Bagaimana mungkin aku berani membuka kaosku, apalagi perasaanku saat itu sudah tidak karuan.
“Ya sudah. Kalau gitu, biar tante bantu bukain,” katanya sambil menaikkan bagian bawah kaosku. Seperti kena sihir aku menurut saja dan mengangkat kedua tanganku saat Tante Ani membuka kaosku.
Setelah itu Tante Ani kembali memijitku. Sekarang tidak lagi hanya pundakku, tapi mulai memijit punggung dan kadang pinggangku. Perasaanku kembali tidak karuan, bukan hanya pijitannya kini, tapi sepasang benda empuk sering menyentuh bahkan kadang menekan punggungku. Meski seumur-umur aku belum pernah menyentuh payudara, tapi aku bisa tahu bahwa benda empuk yang menekan punggungku itu adalah sepasang payudara Tante Ani.
Beberapa lama aku berada dalam situasi antara merasa nyaman, malu dan gugup sekaligus, sampai akhirnya aku merasakan ada benda halus menelusup bagian depan celanaku. Aku terbelalak begitu mengetahui yang menelusup itu adalah tangan Tante Ani.
“Tante.. ” kataku lirih tanpa aku sendiri tahu maksud kataku itu. Tante Ani seperti tidak mempedulikanku, dia malah sudah bergeser ke sampingku dan mulai membuka kancing serta retsluiting celanaku. Sementara itu aku hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya aku mulai bisa melihat dan merasakan Tante Ani mengelus penisku dari luar CD-ku.
Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Sesuatu yang baru pertama kali itu aku rasakan. Belum lagi aku sadar sepenuhnya apa yang terjadi, aku mendapati penisku sudah menyembul keluar dan Tante Ani sudah menggenggamnya sambil sesekali membelai-belainya. Setelah itu aku lebih sering memejamkan mata sambil sekali-kali melirik ke arah penisku yang sudah jadi mainan Tante Ani.
Tak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan yang jauh lebih mencengangkan. Kepala penisku seperti masuk ke satu lubang yang hangat. Ketika aku melirik lagi, kudapati kepala penisku sudah masuk ke mulut Tante Ani, sementara tangannya naik turun mengocok batang penisku. Aku hanya bisa terpejam sambil mendesis-desis keenakan. Beberapa menit kemudian aku merasakan seluruh tubuhku mulai mengejang. Aku merasakan Tante Ani melepaskan penisku dari mulutnya, tapi mempercepat kocokan pada batang penisku.
“Sssshhhh.. creettt… creett… ” Sambil mendesis menikmati sensasi rasa yang luar biasa aku merasakan cairan hangat menyemprot sampai ke dadaku, cairan air mani ku sendiri.
“Ah, dasar anak muda, baru segitu aja udah keluar,” Tante Ani berbisik di dekat telingaku. Aku hanya menatap kosong ke wajah Tante Ani, yang aku tahu tangannya tidak berhenti mengelus-elus penisku. “Tapi ini juga kelebihan anak muda. Udah keluarpun, masih kenceng begini,” bisik Tante Ani lagi.
Setelah itu aku lihat Tante Ani melepas T-Shirtnya, kemudian berturut-turut, BH, celana dan CD-nya. Aku terus terbelalak melihat pemandangan seperti itu. Dan Tante Ani seperti tidak peduli kemudian meluruskan posisi ku, kemudian dia mengangkang duduk di atasku. Selanjutnya aku merasakan penisku digenggam lagi, kali ini di arahkan ke selangkangan Tante Ani.
“Sleppp…. Aaaaahhhhh… ” suara penisku menembus vagina Tante Ani diiringi desahan panjangnya. Kemudian Tante Ani bergerak turun naik dengan cepat sambil mendesah-desah. Mulutnya terkadang menciumi dada, leher dan bibirku.
Ada beberapa menit Tante Ani bergerak naik turun, sampai akhirnya dia mempercepat gerakannya dan mulai menjerit-jerit kecil dengan liarnya. Akupun kembali merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak lama kemudian…
“Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh…….. ,” Tante Ani melenguh panjang, bersamaan dengan teriakanku yang kembali merasakan puncak yang kedua kali. Setelah itu Tante Ani terkulai, merebahkan kepalanya di dadaku sambil memeluk pundakku.
“Terima kasih Dik…,” bisiknya lirih diteruskan kecupan ke bibirku.
Sejak kejadian itu, aku mengalami syok. Rasa takut dan bersalah mulai menghantui aku. Sulit membayangkan seandainya Agus mengetahui kejadian itu. Perubahan besar mulai terjadi pada diriku, aku mulai sering menyendiri dan melamun.
Namun selain rasa takut dan bersalah, ada perasaan lain yang menghinggapi aku. Aku sering terbayang-bayang Tante Ani dia telanjang bulat di depanku, terutama waktu malam hari, sehingga aku tiap malam susah tidur. Selain seperti ada dorongan keinginan untuk mengulangi lagi apa yang telah Tante Ani lakukan padaku.
Perubahan pada diriku ternyata dirasakan juga oleh paman dan bibiku dan juga teman-temanku, termasuk Agus. Tentu saja aku tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Situasi seperti itu berlangsung sampai seminggu lebih yang membuat kesehatanku mulai drop akibat tiap malam susah tidur, dan paginya tetap kupaksakan masuk sekolah. Akibat dari itu pula, akhirnya aku memilih mundur dari tim sepakbola sekolahku, karena kondisiku tidak memungkinkan lagi untuk mengikuti latihan-latihan berat.
Kira-kira seminggu setelah kejadian itu, aku berjalan sendirian di trotoar sepulang sekolah. Aku menuju halte yang jaraknya sekitar 300 meter dari sekolahku. Sebenarnya persis di depan sekolahku juga ada halte untuk bus kota, namun aku memilih halte yang lebih sepi agar tidak perlu menunggu bus bareng teman-teman sekolahku.
Saat asyik berjalan sambil menunduk, aku dikejutkan mobil yang tiba-tiba merapat dan berhenti agak di depanku. Lebih terkejut lagi saat tahu itu mobil itu mobil papanya Agus. Setelah memperhatikan isi dalam mobil, jantungku berdesir. Tante Ani yang mengendari mobil itu, dan sendirian.
“Dik, cepetan masuk, ntar keburu ketahuan yang lain,” panggil Tante Ani sambil membuka pintu depan sebelah kiri. Sementara aku hanya berdiri tanpa bereaksi apa-apa.
“Cepetan sini!” kali ini suara Tante Ani lebih keras dan wajahnya menyiratkan kecemasan.
“I.. Iya.. tante,” akhirnya aku menuruti panggilan Tante Ani, dan bergegas masuk mobil.
“Nah, gitu. Keburu ketahuan temen-temenmu, repot.” kata Tante Ani sambil langsung menjalankan mobilnya.
Di dalam mobil aku hanya diam saja, meskipun aku bisa sedikit melihat Tante Ani beberapa kali menengok padaku.
“Tumben kamu nggak bareng Agus,” Tanya Tante Ani tiba-tiba.
“Enn.. Enggak tante. Saya lagi pengin sendirian saja. Tante nggak sekalian jemput Agus?” aku sudah mulai menguasai diriku.
“Kan, emang Agus nggak pernah dijemput,” jawab Tante Ani.
“Eh, iya ya,” jawabku seperti orang bloon.
Setelah itu kami lebih banyak diam. Tante Ani mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di sebuah komplek pertokoan Tante Ani melambatkan mobilnya sambil melihat-lihat mungkin mencari tempat parkir yang kosong. Setelah memarkirkan mobilnya, yang sepertinya mencari tempat yang agak jauh dari pusat pertokoan, Tante Ani mengajak aku turun.
Setelah turun, Tante Ani langsung menyetop taksi yang kebetulan sedang melintas. Terlihat dia bercakap-cakap dengan sopir taksi sebentar, kemudian langsung memanggilku supaya ikut naik taksi. Setelah masuk taksi, Tante Ani memberi isyarat padaku yang terbengong-bengong supaya diam, kemudian dia menyandarkan kepalanya pada jok taksi dan memejamkan matanya, entah kecapaian atau apa. Kira-kira 20 menit kemudian taksi memasuki pelataran sebuah hotel di pinggiran kota.
“Dik, kamu masuk duluan, kamu langsung aja. Ada kamar nganggur yang habis dipakai tamu kantor tante. Nanti tante nyusul,” kata Tante Ani memberikan kunci kamar hotel sambil setengah mendorongku agar keluar.
Kemudian aku masuk ke hotel, aku memilih langsung mencari petunjuk yang ada di hotel itu daripada tanya ke resepsionis. Dan memang tidak sulit untuk mencari kamar dengan nomor seperti yang tertera di kunci. Singkat cerita aku sudah masuk ke kamar, namun hanya duduk-duduk saja di situ.
Kira-kira 15 menit kemudian terdengar ketukan di pintu kamar, ternyata Tante Ani. Dia langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang.
“Agus bilang kamu keluar dari tim sepakbola ya?!” tanyanya tanpa ba-bi-bu dengan nada agak tinggi.
“I.. iya tante,” jawabku pelan.
“Kamu juga nggak pernah lagi kumpul sama temen-temen kamu, nggak pernah main lagi sama Agus,” Tante Ani menyemprotku yang hanya bisa diam tertunduk.
“Kamu tahu, itu bahaya. Orang-orang dan keluargaku bisa tahu apa yang sudah terjadi.. ,” kata-kata Tante Ani terputus dan terdengar mulai sedikit sesenggukan.
“Tapi.. saya nggak pernah ngasih tahu siapa-siapa,” kataku.
“Memang kamu belum ngasih tahu, tapi kalau ditanyain terus-terusan bisa-bisa kamu cerita juga,” katanya lagi sambil sesenggukan. “Apa yang terjadi dengan keluarga tante jika semuanya tahu!”
“Tante memang salah, tante yang membuat kamu jadi begitu,” kata Tante Ani, kali ini agak lirih sambil menahan tangisnya. “Tapi kalau kamu merasakan seperti yang tante rasakan..” terputus lagi.
“Merasakan apa tante?”
Akhirnya Tante Ani cerita panjang lebar tentang rumah tangganya. Tentang suaminya yang sibuk mengejar karir, sehingga hampir tiap hari pulang malam, dan jarang libur. Tentang kehidupan seksualnya sebagai akibat dari kesibukan suaminya, serta beratnya menahan hasrat biologisnya akibat dari semua itu.
“Kalau kamu mau marah, marahlah. Entah kenapa, tante nggak sanggup lagi menahan dorongan birahi waktu kamu ke rumah minggu kemarin. Terserah kamu mau menganggap tante kayak apa, yang penting kamu sudah tahu masalah tante. Sekarang kalau mau pulang, pulanglah, tante yang ngongkosin taksinya,” kata Tante Ani lirih sambil membuka tasnya, mungkin mau mengeluarkan dompet.
“Nggak.. nggak usah tante.. ” aku mencegah. “Saya belum mau pulang, saya nggak mau membiarkan tante dalam kesedihan.” Entah pengaruh apa yang bisa membuatku seketika bisa bersikap gagah seperti itu. Aku hampiri Tante Ani, aku elus-elus kepalanya. Hilang sudah perasaan sungkanku padanya. Tante Ani kemudian memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya dalam pelukanku.
Setelah beberapa lama, aku duduk di samping Tante Ani. Kuusap-usap dan sibakkan rambutnya. Kusap pipinya dari airmata yang masih mengalir. Pelahan kucium keningnya. Kemudian, entah siapa yang mulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu. Ternyata, kalau tidak sedang merasa sungkan atau takut, aku cukup lancar juga mengikuti naluri kelelakianku.
Cukup lama kami berciuman bibir, dan makin lama makin liar. Aku mulai mengusap punggung Tante Ani yang masih memakai baju lengkap, dan kadang turun untuk meremas pantatnya. Tante Ani pun melakukan hal yang sama padaku.
Tante Ani sepertinya kurang puas bercumbu dengan pakaian lengkap. Tangannya mulai membuka kancing baju seragam SMU-ku, kemudian dilepasnya berikut kaos dalam ku. Kemudian dia melepaskan pelukanku dan berdiri. Pelan-pelan dia membuka pakain luarnya, sampai hanya memakai CD dan BH. Meskipun aku sudah melihat Tante Ani telanjang, tapi pemandangan yang sekarang ada di depanku jauh membuat nafsuku bergejolak, meskipun masih tertutup CD dan BH. Aku langsung berdiri, kupeluk dan kudorong ke arah dinding, sampai kepala Tante Ani membentur dinding, meski tidak begitu keras.
“Ah, pelan-pelan doonnng,” kata Tante Ani manja diiringi desahannya desahannya.
Aku semakin liar saja. Kupagut lagi bibir Tante Ani, sambil tanganku meremas-remas buah dadanya yang masih memakai BH. Tante Ani tidak mau kalah, bahkan tangannya sudah mulai melepaskan melorotkan celana luar dan dalamku. Kemudian, diteruskannya dengan menginjaknya agar bisa melorot sempurna. Aku bantu upaya Tante Ani itu dengan mengangkat kakiku bergantian, sehingga akhirnya aku sudah telanjang bulat.
Setelah itu Tante Ani membantuku membuka pengait BH-nya yang ada di belakang. Rupanya dia tahu aku kesulitan untuk membuka BH-nya. Sekarang aku leluasa meremas-remas kedua buah dada Tante Ani yang cukup besar itu, sedang Tante Ani mulai mengelus dan kadang mengocok penisku yang sudah sangat tegang.
Kemudian tante setengah menjambak Tante Ani mendorong kepalaku di arahkan ke buah dadanya yang sebelah kiri. Kini puting susu itu sudah ada di dalam mulutku, kuisap-isap dan jilati mengikuti naluriku.
“Aaaaahh….. oooouhghhh… ” desahan Tante Ani makin keras sambil tangannya tak berhenti mempermainkan penisku.
Beberapa kali aku isap puting susu Tante Ani bergantian, mengikuti sebelah mana yang dia maui. Setelah puas buah dadanya aku mainkan, Tante Ani mendorong tubuhku pelan ke belakang. Kemudian dia berputar, berjalan mundur sambil menarikku ke arah ranjang. Sampai di pinggir ranjang, Tante Ani sengaja menjatuhkan dirinya sehingga sekarang dia telentang dengan aku menindih di atasnya, sementara kakinya dan kakiku masih menginjak lantai. Setelah itu, dia berusaha melorotkan CD-nya, yang kemudian aku bantu sehinggap Tante Ani kini untuk kedua kalinya telanjang bulat di depanku.
Usai melepas CD-nya aku masih berdiri memelototi pemandangan di depanku. Tante Ani yang telentang dengan nafas memburu dan mata agak saya menatapku. Gundukan di selangkangannya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat nampak benar menantang, seperti menyembul didukung oleh kakinya yang masih menjuntai ke lantai. Bibir vaginanya nampak mengkilap terkena cairan dari dalamnya. (Waktu itu aku belum bisa menilai dan membanding-bandingkan buah dada, mana yang kencang, bagus dan sebagainya. Paling hanya besar-kecilnya saja yang bisa aku perhatikan).
“Sini sayaangg.. ,” panggil Tante Ani yang melihat aku berdiri memandangi tiap jengkal tubuhnya. Aku menghampirinya, menindih dan mencoba memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Tapi, Tante Ani menahanku. Nampak dia menggeleng sambil memandangku. Kemudian tiba-tiba kepalaku didorong kebawah. Terus didorong cukup kuat sampai mulutku persis berada di depan lubang vaginanya. Setelah itu Tante Ani berusaha agar mulutku menempel ke vaginanya. Awalnya aku ikuti, tapi setelah mencium bau yang aneh dan sangat asing bagiku, aku agak melawan.
Mengetahui aku tidak mau mengikuti kemauannya, dia bangun. Ditariknya kedua tanganku agar aku naik ke ranjang, ditelentangkannya tubuhku. Sempat aku melihat bibirnya tersenyum, sebelum di mengangkang tepat di atas mulutku.
“Bleepp… ” aku agak gelagapan saat vagina Tante Ani ditempel dan ditekankan di mulutku. Tante Ani memberi isyarat agar aku tidak melawan, kemudian pelan-pelan vaginanya digesek-gesekkan ke mulutku, sambil mulutnya mendesis-desis tidak karuan. Aku yang awalnya rada-rada jijik dengan cairan dari vagina Tante Ani, sudah mulai familiar dan bisa menikmatinya. Bahkan, secara naluriah, kemudian ku keluarkan lidahku sehingga masuk ke lubang vagina Tante Ani.
“Oooohhh… sssshhh… pinter kamu sayang… oh… ” gerakan Tante Ani makin cepat sambil meracau. Tiba-tiba, dia memutar badannya. Kagetku hanya sejenak, berganti kenikmatan yang luar biasa setelah penisku masuk ke mulut Tante Ani. Aku merasakan kepala penisku dikulum dan dijilatinya, sambil tangannya mengocok batang penisku. Sementara itu, vaginanya masih menempel dimulutku, meskipun gesekannya sudah mulai berkurang. Sambil menikmati aku mengelus kedua pantat Tante Ani yang persis berada di depan mataku.
Setelah puas dengan permainan seperti itu, Tante Ani mulai berputar dan bergeser. Masih mengangkang, tapi tidak lagi di atas mulutku, kali ini tepat di atas ujung penisku yang tegak.
“Sleep.. blesss… ooooooooooooohhhhhh,” penisku menancap sempurna di dalam vagina Tante Ani diikuti desahan panjangnya, yang malah lebih mirip dengan lolongan.
Tante Ani bergerak naik turun sambil mulutnya meracau tidak karuan. Tidak seperti yang pertama waktu di rumah Tante Ani, kali ini aku tidak pasif. Aku meremas kedua buah dada Tante Ani yang semakin menambah tidak karuan racauannya. Rupanya, aksi Tante Ani itu tidak lama, karena kulihat tubuhnya mulai mengejang. Setengah menyentak dia luruskan kakinya dan menjatuhkan badannya ke badanku.
“Ooooooooohhh…. Aaaaaaaaahhh….. ” Tante Ani ambruk, terkulai lemas setelah mencapai puncak.
Beberapa saat dia menikmati kepuasannya sambil terkulai di atasku, sampai kemudian dia berguling ke samping tanpa melepas vaginanya dari penisku, dan menarik tubuhku agar gantian menindihnya.
Sekaraang gantian aku mendorong keluar-masuk penisku dari posisi atas. Tante Ani terus membelai rambut dan wajahku, tanpa berhenti tersenyum. Beberapa waktu kemudian aku mempercepat sodokanku, karena terasa ada bendungan yang mau pecah.
“Tanteeeeee……. Oooooohhh……. ” gantian aku yang melenguk panjang sambil membenamkan penisku dalam-dalam. Tante Ani menarik tubuhku menempel ketat ke dadanya, saat aku mencapai puncak.
Setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan, aku dan Tante Ani terus ngobrol sambil tetap berpelukan yang diselingi dengan ciuman. Waktu ngobrol itu pula Tante Ani banyak memberi tahu tentang seks, terutama bagian-bagian sensitif wanita serta bagaimana meng-eksplor bagian-bagian sensitif itu.
Setelah jam 4 sore, Tante Ani mengajak pulang. Aku sebenarnya belum mau pulang, aku mau bersetubuh sekali lagi. Tapi Tante Ani berkeras menolak.
“Tante janji, kamu masih terus bisa menikmati tubuh tante ini. Tapi ingat, kamu harus kembali bersikap seperti biasa, terutama pada Agus. Dan kamu harus kembali ke tim sepakbola. Janji?”
“He-em,” aku menganggukkan kepala.
“Ingat, kalau kamu tepat janji, tante juga tepat janji. Tapi kalau kamu ingkar janji, lupakan semuanya. Oke?” Aku sekali mengangguk.
Sebelum aku dan Tante Ani memakai pakaian masing-masing, aku sempatkan mencium bibir Tante Ani dan tak lupa bibir bawahnya. Setelah selesai berpakaian, Tante Ani memberiku ongkos taksi dan menyuruhku pulang duluan.
Sejak itu perasaanku mulai ringan kembali, dan aku sudah normal kembali. Aku juga bergabung kembali ke tim sepakbola sekolahku, yang untungnya masih diterima. Dari sepakbola itulah yang kemudian memuluskan langkahku mencari kerja kelak. Dan Tante Ani menepati janjinya. Dia benar-benar telah menjadi pasangan kencanku, dan guru sex-ku sekaligus. Paling sedikit seminggu sekali kami melakukannya berpindah-pindah tempat, dari hotel satu ke hotel yang lain, bahkan kadang-kadang keluar kota. Tentu saja kami melakukannya memakai strategi yang matang dan hati-hati, agar tidak diketahui orang lain, terutama keluarga Tante Ani.
Sejak itu pula aku mengalami perubahan yang cukup drastis, terutama dalam pergaulanku dengan teman-teman cewek. Aku yang awalnya dikenal pemalu dan jarang bergaul dengan teman cewek, mulai dikenal sebagai play boy. Sampai lulus SMU, beberapa cewek baik dari sekolahku maupun dari sekolah lain sempat aku pacari, dan beberapa di antaranya berhasil kuajak ke tempat tidur. (Lain waktu, kalau sempat saya ceritakan petualangan saya tersebut).
Begitulah kisah awalku dengan Tante Ani, yang akhirnya merubah secara drastis perjalanan hidupku ke depannya. Sampai saat ini, aku masih berhubungan dengan Tante Ani, meskipun paling-paling sebulan atau dua bulan sekali. Meskipun dari segi daya tarik seksual Tante Ani sudah jauh menurun, namun aku tidak mau melupakannya begitu saja. Apalagi, Tante Ani tidak pernah berhubungan dengan pria lain, karena dianggapnya resikonya terlalu besar.
Begitulah, Tante Ani yang terjepit antara hasrat seksual menggebu yang tak terpenuhi dengan status sosial 
yang harus selalu dijaga.


Tante Cantik H0T dari Malaysia